ACEH — OpenAI kembali mengocok jajaran eksekutifnya. Perusahaan di balik ChatGPT ini resmi menunjuk Dali Rajic sebagai kepala bagian penjualan yang baru, menggantikan Denise Dresser. Perombakan ini jadi yang terbaru setelah sejumlah posisi penting ditinggalkan para petingginya.
Kabar ini diumumkan langsung oleh salah satu pendiri sekaligus presiden OpenAI, Greg Brockman, melalui blog resmi perusahaan. Ia menyebut kontribusi Dresser selama memimpin organisasi pendapatan sebagai periode formatif bagi bisnis OpenAI.
"Denise telah memimpin organisasi pendapatan kami melalui periode formatif bagi bisnis dan bekerja tanpa lelah untuk mendapatkan tim di posisinya sekarang," tulis Brockman. Ia menambahkan bahwa cara perusahaan menerapkan teknologi ini berubah cepat, dan Rajic akan mengubah pembelajaran tersebut menjadi eksekusi yang berulang.
Sebelumnya, OpenAI juga ditinggalkan COO Brad Lightcap dan CEO AGI Deployment Fidji Simo yang merupakan eksekutif nomor dua perusahaan. Brockman kini mengambil peran lebih besar dalam manajemen setelah kepergian Simo.
Rajic datang dari Wiz, perusahaan keamanan siber yang diakuisisi Google senilai 32 miliar dolar AS tahun ini. Akuisisi tersebut tercatat sebagai pembelian terbesar yang pernah dilakukan raksasa teknologi itu. Pengalaman Rajic sebagai presiden dan COO Wiz dianggap bisa membawa pendekatan baru untuk penjualan produk OpenAI.
Meski produk OpenAI sudah menjangkau lebih dari satu miliar pengguna aktif mingguan dan dua juta bisnis, perusahaan disebut belum memenuhi semua target pendapatan. Hal ini diakui para eksekutif baik secara internal maupun publik. CEO Sam Altman pun telah berbicara tentang fokus perusahaan pada penerapan enterprise dan memangkas proyek teknologi yang dianggap mengganggu tujuan tersebut.
OpenAI juga dikabarkan telah mengajukan dokumen pendaftaran secara rahasia ke SEC untuk persiapan IPO. Namun, waktu pastinya belum jelas. Pekan ini, perusahaan membeli saham senilai 7 miliar dolar AS dari karyawan melalui tender offer yang memungkinkan mereka mencairkan kompensasi ekuitas. Langkah ini kerap dilakukan perusahaan privat untuk merapikan jajaran eksekutif sebelum debut di pasar publik, sekaligus bisa menjadi sinyal penundaan IPO.