BANDA ACEH — Dua nama baru mencuat dari panggung dakwah Aceh. Patria Briliyan Amin dan Syathira Aleta Rasha, santri Dayah Insan Qurani (IQ), berhasil menembus persaingan ketat dan membawa pulang gelar juara kedua di ajang Lomba Public Speaking Tahun 2026 tingkat MA se-Aceh.
Kompetisi yang digagas oleh Dinas Pendidikan Dayah Aceh ini berlangsung selama tiga hari di Hotel Madinatul Zahra, Aceh Besar. Patria mengumpulkan nilai 94,20 untuk kategori putra, sementara Syathira meraih 93,50 di kategori putri. Keduanya hanya terpaut tipis dari sang juara bertahan.
Selisih nilai yang tipis mewarnai perhelatan tahun ini. Untuk kategori putra, Ahmad Syakir Mubarak dari Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee keluar sebagai juara pertama dengan nilai 95,00. Sementara itu, Cut Alisa Maharani dari Pesantren Modern Al Manar memuncaki kategori putri dengan skor 94,00.
Posisi ketiga untuk kedua kategori menjadi milik Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB). Fais Hafiz dan Zahratus Shulfi ZT kompak mengantongi nilai yang sama, yakni 91,50.
Pimpinan Dayah Insan Qurani, Ustaz H. Muzzakir Zulkifli, S.Ag., tidak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Ia menyebut pencapaian ini adalah buah dari kerja keras para santri dalam menempa diri di asrama.
"Alhamdulillah, di ajang Lomba Public Speaking Tahun 2026 yang diselenggarakan Dinas Dayah Aceh, kedua santri utusan dari dayah kita sangat membanggakan. Keduanya meraih juara II untuk tingkat MA baik kategori putra maupun putri," ujar Muzakkir, Senin (24/8/2026).
Ia berharap torehan ini mampu menyalakan semangat bagi santri lainnya. "Torehan kedua santri ini semoga menjadi motivasi bagi adik-adik mereka yang masih duduk di jenjang MTs dan MA, baik putra maupun putri, untuk terus membawa harum nama Dayah Insan Qurani," tuturnya.
Malam penganugerahan hadiah pada Minggu (23/8/2026) menjadi momentum refleksi. Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin Thahir, S.Pd.I., M.Pd.I., menegaskan bahwa esensi lomba ini jauh melampaui sekadar selebrasi di atas panggung.
Menurut Muhsin, kemampuan berbicara di depan publik adalah bekal hidup yang krusial bagi seorang santri. Di era modern, santri tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama di ruang kelas, tetapi juga harus lihai menyampaikannya kepada dunia luar.
"Public speaking ini penting bagi santri karena nantinya mereka akan berhadapan langsung dengan masyarakat. Santri harus mampu menyampaikan ilmu, berdakwah, menyampaikan gagasan, dan menjadi bagian dari solusi di tengah masyarakat," ungkap Muhsin di hadapan para peserta.
Muhsin mengingatkan bahwa menata kata bukan sekadar modal nekat. Ada seni menyusun ide, ketepatan memilih diksi, serta cara membangun rasa percaya diri agar pesan kebaikan bisa meresap ke hati pendengar.
Ia pun menitipkan pesan agar ruang-ruang latihan di dayah terus dihidupkan. Kompetisi ini harus menjadi pemantik awal bagi para santri untuk mengasah kemampuan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
"Santri harus berani berbicara, tetapi juga harus memiliki substansi dalam apa yang disampaikan. Keberanian harus diikuti dengan ilmu, akhlak, dan kemampuan menyampaikan pesan dengan cara yang baik," tegas Muhsin.
Di tengah gerak zaman yang serba cepat, kemampuan komunikasi yang persuasif akan menjadi jembatan bagi generasi muda Aceh untuk mengambil peran strategis. Pihak dinas berharap alumni dayah ke depan siap berdiri di garis depan sebagai pemimpin, pendidik, dan penggerak kemajuan masyarakat.