MEULABOH — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Aceh Barat akan menggelar Festival Literasi Aceh Barat 2026 pada 16–19 September mendatang di halaman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) setempat. Perhelatan bertema "Aceh Barat Menuju Pusat Literasi Informasi" ini menghadirkan Gramedia Book Fair, bedah buku, seminar literasi, hingga keterlibatan pelaku UMKM sebagai wujud kolaborasi lintas sektor memperkuat budaya membaca.
Kepala Dispusip Aceh Barat, Abdurrani, S.Pd., M.Pd., menyampaikan festival ini digagas sebagai ruang kolaborasi antara pemerintah, pelajar, mahasiswa, komunitas literasi, pelaku UMKM, dan dunia pendidikan yang memiliki kepedulian terhadap literasi di Aceh Barat.
Abdurrani menegaskan perkembangan teknologi informasi membuat definisi literasi bergeser. Ia menilai kemampuan membaca dan menulis saja tidak cukup ketika masyarakat dihadapkan pada banjir informasi yang sulit diverifikasi.
"Literasi tidak lagi hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis, namun juga mencakup kemampuan masyarakat dalam mengakses, memahami, mengolah, mengevaluasi dan memanfaatkan informasi secara bijak," jelasnya kepada wartawan, Kamis (3/9/2026).
Selama empat hari penyelenggaraan, panitia menyiapkan Gramedia Book Fair serta bedah buku yang menghadirkan penulis dan pegiat literasi. Seminar literasi dan kegiatan edukasi juga dijadwalkan berlangsung di lokasi yang sama.
Ruang tersebut, menurut Abdurrani, dibuka seluas-luasnya bagi aktivitas komunitas dan pameran pelaku UMKM. Ia berharap kehadiran beragam kegiatan mampu menghadirkan pengalaman literasi yang lebih dekat dengan masyarakat sekaligus menjadi ruang interaksi dan pertukaran gagasan.
"Melalui festival ini kita berharap buku dan informasi semakin dekat dengan masyarakat," ujarnya.
Festival ini juga diharapkan mengubah cara pandang publik terhadap perpustakaan. Abdurrani menyebutkan perpustakaan dan ruang literasi tidak sekadar menjadi tempat menyimpan maupun membaca buku, melainkan dapat berkembang menjadi pusat pembelajaran, kreativitas, inovasi, serta ruang interaksi masyarakat.
"Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bagian penting dalam membangun gerakan literasi yang tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah maupun perpustakaan, tetapi juga tumbuh di tengah masyarakat," katanya.
Abdurrani menambahkan perhelatan ini merupakan langkah konkret memperkuat posisi Aceh Barat sebagai daerah yang serius mengembangkan budaya baca dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Semangat itu, tuturnya, hanya dapat diwujudkan lewat partisipasi aktif semua pihak.
"Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, perpustakaan, komunitas, dunia usaha, pelaku UMKM serta masyarakat memiliki peran yang sama dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya budaya literasi," tutupnya.
Festival Literasi Aceh Barat 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan, melainkan menjadi momentum membangun masyarakat yang gemar membaca, kritis terhadap informasi, dan siap menghadapi derasnya arus informasi di era digital.