ACEH — Danantara Indonesia menyiapkan langkah strategis memperkuat pasar modal nasional dengan masuk sebagai pemegang saham Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah proses demutualisasi bursa. Langkah itu menjadi bagian dari reformasi tata kelola pasar modal yang digenjot sejak Februari lalu untuk memulihkan kepercayaan investor global. Valuasi saham domestik yang masih murah disebut menjadi magnet bagi masuknya kembali dana asing.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menilai reformasi pasar modal adalah momentum tepat untuk mengembalikan kepercayaan investor internasional. Menurut dia, fundamental sejumlah perusahaan tetap tumbuh meski harga sahamnya belum mencerminkan nilai sebenarnya. "Peluang investasi di pasar domestik masih menarik karena valuasi saham relatif murah," ujar Pandu.
Keberhasilan reformasi pasar modal, kata Pandu, tidak lepas dari koordinasi antarlembaga keuangan pemerintah dalam menyampaikan arah kebijakan kepada investor global. Koordinasi itu terjalin dalam forum meja bundar atau roundtable di Bangkok, Thailand, di sela-sela pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia dua hari lalu.
Forum bertajuk "Reform, Transparency and Capital: Indonesia's Financial Sector and the Role of Danantara" itu mempertemukan Danantara, Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), serta perwakilan BEI dengan sejumlah investor global. Hadir pula lembaga pemeringkat dan penyedia indeks internasional seperti Moody's Ratings, S&P Global Ratings, Fitch Ratings, J.P. Morgan, dan MSCI.
Menurut Pandu, investor mengapresiasi koordinasi antarlembaga tersebut. Mereka kini menantikan tindak lanjut yang konsisten setelah berbagai kebijakan diumumkan dalam poin-poin reformasi integritas pasar modal sejak Februari lalu. "Kalau kami melihat posture 2027, apalagi dengan economy team tadi, institusi tadi yang sekarang sudah saling mengisi, saya malah sekarang tendensi bisa dibilang optimis, lebih optimis. Dan juga posture kita dalam berinvestasi mungkin akan lebih lagi ke domestik," kata Pandu kepada Katadata usai menghadiri roundtable tersebut, Selasa (13/10).
Pandu menyadari tantangan terbesar bukan lagi soal komitmen, melainkan pembuktian bahwa koordinasi itu berlanjut menjadi implementasi kebijakan nyata. Kepercayaan investor, katanya, tidak cukup dibangun lewat pernyataan. "Kalau mengenai waktu, give us time, chance to prove," ujarnya.
Salah satu strategi yang disiapkan adalah demutualisasi BEI, yakni perubahan struktur bursa dari organisasi berbasis keanggotaan menjadi perusahaan berbentuk perseroan. Perubahan ini diharapkan membuka ruang bagi penguatan modal, perbaikan tata kelola, dan peningkatan daya saing bursa.
"Dari sisi keberanian, dari sisi OJK, kemampuan eksekusi OJK dan Bursa untuk membuka demutualisasi, itu menurut kami langkah yang perlu diapresiasi oleh para pemain pasar modal, baik domestik maupun global," kata Pandu.
Dalam proses demutualisasi, Danantara akan masuk sebagai pemegang saham bursa dengan tetap mengikuti regulasi yang ditetapkan OJK. Pandu menegaskan peran itu tidak berarti Danantara akan mengambil alih fungsi regulator atau mengintervensi pengelolaan bursa. OJK tetap berwenang mengatur ketentuan kepemilikan saham, termasuk batas kepemilikan pemegang saham tertentu.
Danantara akan menjalankan peran sebagai pemegang saham dengan mendorong visi dan rencana bisnis yang mampu meningkatkan daya saing bursa. Menurut Pandu, BEI perlu memiliki kemampuan bersaing setara dengan bursa regional yang lebih dulu menjalankan demutualisasi, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. "Setelah level playing field-nya sama, tentu nanti akan berbeda sendiri," ujarnya.
Danantara juga berpotensi memberikan pendanaan baru kepada BEI setelah demutualisasi. Tambahan modal tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat teknologi dan meningkatkan daya saing infrastruktur pasar modal. Namun, setiap keputusan investasi harus memberikan manfaat yang jelas bagi Danantara dan dijalankan dengan tata kelola yang baik. "Apa pun investment-investment ke saham, bond, private company, apa pun bentuknya, harus ada benefit yang jelas buat Danantara," kata Pandu.
Sebagai badan pengelola investasi milik negara, Danantara menerapkan prinsip kehati-hatian lebih kuat dibandingkan investor swasta. Karena itu, Danantara cenderung menyasar perusahaan yang telah memiliki rekam jejak usaha, alih-alih masuk langsung ke perusahaan rintisan berisiko tinggi. Di sektor teknologi, Danantara akan mengandalkan pengelola dana yang memiliki keahlian dan rekam jejak terbukti.
Langkah Danantara masuk ke BEI menandai babak baru tata kelola bursa nasional. Jika demutualisasi berjalan sesuai rencana, pasar modal Indonesia berpeluang mengejar ketertinggalan dari bursa-bursa regional yang lebih dulu berbenah.