BANDA ACEH — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menurunkan kualitas udara sekaligus memangkas jarak pandang di sejumlah bandara Aceh. Dishub Aceh menyampaikan imbauan lewat akun Instagram resminya, Kamis, 15 Oktober 2026, agar penumpang tidak bertumpu pada jadwal lama yang mungkin sudah berubah.
Penundaan jadwal penerbangan mulai terjadi di beberapa rute. Penerbangan Susi Air rute Kualanamu–Rembele dibatalkan pada 15 Oktober 2026, sehari setelah penerbangan Wings Air rute Kualanamu–Malikussaleh juga dibatalkan pada 14 Oktober 2026.
Dishub Aceh turut meminta masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan memakai masker demi menjaga kesehatan pernapasan.
Pengamatan cuaca BMKG pada Jumat, 16 Oktober 2026, pukul 07.00 WIB, menunjukkan kondisi berasap di Bandara Maimun Saleh, Sabang, dengan jarak pandang sekitar dua kilometer. Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, dilaporkan berkondisi halimun dengan jarak pandang 2,7 kilometer.
Di Bandara Malikussaleh, Lhokseumawe, jarak pandang tercatat sekitar dua kilometer, meski cuaca yang dilaporkan di lokasi tersebut adalah guntur. Angka-angka ini menjadi acuan maskapai dalam menentukan apakah sebuah penerbangan bisa diberangkatkan atau harus ditunda.
Dishub Aceh menekankan penumpang sebaiknya mengecek secara berkala jadwal keberangkatan dan memastikan status penerbangan langsung ke pihak maskapai.
"Buat kamu yang berencana melakukan perjalanan dengan pesawat udara, cek secara berkala jadwal penerbangan kamu dan pastikan status penerbangan kamu ke pihak maskapai," tulis Dishub Aceh dalam unggahan resminya.
Langkah ini dinilai penting karena kabut asap bisa bergerak cepat mengikuti arah angin. Rute yang pagi masih normal bisa berubah statusnya beberapa jam kemudian.
Sejumlah pemerintah daerah di Aceh mengeluarkan imbauan serupa, mulai dari membatasi aktivitas luar ruangan hingga larangan membakar sampah dan lahan.
Imbauan kewaspadaan juga disampaikan di Kota Sabang, Kota Lhokseumawe, Kota Langsa, Aceh Tenggara, Gayo Lues, dan Aceh Selatan. Masyarakat diminta mengikuti perkembangan informasi resmi dari instansi terkait dan mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kondisi asap memburuk.
Warga yang mengalami keluhan seperti sesak napas, batuk berkepanjangan, atau iritasi mata setelah terpapar asap disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan. Keluhan pernapasan menjadi risiko utama saat partikel asap karhutla terhirup dalam waktu lama, terutama bagi anak-anak, lansia, dan warga dengan riwayat penyakit paru.
Bagi warga yang hendak bepergian, memastikan status penerbangan ke maskapai menjadi langkah paling praktis sebelum berangkat ke bandara. Penundaan dan pembatalan bisa berubah mengikuti kondisi jarak pandang terbaru di masing-masing bandara.