PIDIE JAYA — Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya menempatkan 94 unit alat berat dan kendaraan operasional di sejumlah titik pemulihan pascabencana. Alokasi tersebut terdiri atas enam jenis mesin dengan fungsi berbeda, disesuaikan dengan kebutuhan lapangan di tiap sektor terdampak.
Rekapitulasi alokasi menunjukkan excavator mendominasi dengan tiga varian: 8 unit PC200 untuk pengerukan dan penggalian skala besar, 4 unit PC100 untuk normalisasi saluran, dan 4 unit PC55 untuk area sempit. Sisanya, 6 unit backhoe loader, 6 unit bulldozer, dan 66 unit dump truck yang menjadi kekuatan utama pengangkutan material.
Kombinasi alat itu diarahkan memperkuat penanganan material, mulai dari pengerukan, pembersihan, penggalian, hingga pengangkutan lumpur dan tanah yang menghambat aktivitas warga.
Melalui Dinas Pekerjaan Umum, pekerjaan difokuskan pada normalisasi Sungai Krueng Meureudu, pengerukan Muara Kiran, pembersihan saluran irigasi, dan penanganan lingkungan permukiman. Normalisasi sungai serta pengerukan muara diharapkan memulihkan kapasitas aliran air.
Pembersihan saluran irigasi menyasar pemulihan pengairan lahan pertanian. Infrastruktur yang kembali berfungsi membuka akses pemulihan, meski hasil akhirnya tetap bergantung pada kondisi lapangan dan efektivitas pekerjaan.
Dinas Pertanian memprioritaskan pembersihan sawah terdampak di Gampong Blang Awe, termasuk lahan yang ditumbuhi semak belukar dan saluran irigasi yang butuh penanganan. Dinas Kelautan dan Perikanan diarahkan menangani tambak terdampak di Gampong Meunasah Balek beserta saluran tambaknya.
Dua sektor itu berkaitan langsung dengan mata pencaharian warga. Sawah yang kembali bisa diolah memberi peluang petani memulai produksi, sedangkan tambak yang pulih membantu menggerakkan kembali usaha perikanan.
Pemerintah daerah membuka kemungkinan menggeser penempatan alat sesuai perkembangan kondisi lapangan, sehingga dukungan diarahkan ke lokasi yang paling membutuhkan.
Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi menekankan keberhasilan memperjuangkan dukungan pusat harus dibuktikan lewat pekerjaan nyata, bukan besarnya jumlah alat yang datang. Ia mendorong seluruh dinas terkait bergerak terpadu, menentukan lokasi berdasarkan skala prioritas, mengoptimalkan penggunaan alat berat, serta memastikan hasil pekerjaan terpantau dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pendekatan itu dinilai penting agar pengerahan alat tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan terhubung dalam satu agenda pemulihan daerah: memperbaiki infrastruktur, memulihkan lahan produktif, membuka kembali saluran pengairan, dan membantu warga membangkitkan ekonomi.
Bagi Sibral, perjuangan mendatangkan dukungan bukan sekadar menghadirkan deretan mesin berat, melainkan membuka jalan agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan normal.
Dukungan pusat diharapkan menjadi pengungkit percepatan rehab-rekon Pidie Jaya. Keberhasilannya tetap diukur dari seberapa jauh pekerjaan di lapangan mampu menjawab kebutuhan warga terdampak.
Tantangan berikutnya adalah memastikan 94 unit alat berat dan kendaraan pendukung itu bekerja optimal, tepat sasaran, dan menghasilkan perubahan nyata bagi masyarakat Pidie Jaya.