ACEH SINGKIL — Pelantikan Ny Habibatussania Safriadi Oyon berlangsung dalam acara pelantikan ibunda guru se-Aceh yang dipimpin langsung Bunda Guru Aceh, Ibu Marlina Muzakir. Prosesi berlangsung di Aula Dinas Pendidikan Aceh, Sabtu, 24 Oktober 2026, mulai pukul 16.30 WIB. Sejumlah tokoh pemuda, tokoh agama, dan perwakilan lintas organisasi di Aceh Singkil menyambut pengukuhan tersebut.
Jabatan Bunda Guru melekat pada isteri kepala daerah dan bertugas mendorong kepedulian terhadap dunia pendidikan di wilayahnya. Bagi Aceh Singkil, pengukuhan ini disebut membuka ruang perubahan pada tata kelola sarana sekolah hingga pembinaan karakter peserta didik.
Habibatussania menegaskan peran Bunda Guru tidak berhenti pada pendampingan seremonial. Menurutnya, posisi itu harus menjadi penggerak kepedulian dan kolaborasi dalam membangun generasi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia.
"Pelantikan ini bukan sekadar seremoni, melainkan amanah untuk memperkuat kepedulian terhadap dunia pendidikan. Kami ingin memastikan setiap anak memperoleh kesempatan belajar yang baik, tumbuh dengan penuh percaya diri, serta mendapatkan lingkungan pendidikan yang mendukung masa depannya," ujarnya.
Ia menyebut sinergi antara pemerintah, tenaga pendidik, orang tua, dan masyarakat sebagai kunci mutu pendidikan. Kepentingan dan masa depan anak, kata dia, harus berada di urutan teratas dalam setiap kebijakan sekolah.
"Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Karena itu, Bunda Guru harus mampu menjadi jembatan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat agar lahir generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga kuat dalam karakter, santun dalam perilaku, dan memiliki kepedulian sosial," tegasnya.
Pakar hukum internasional sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (PAMID), Profesor Dr Sutan Nasomal SH MH, menilai pengukuhan Habibatussania membawa harapan baru bagi pendidikan Aceh Singkil. Ia menyoroti kondisi sarana dan prasarana bangunan sekolah di seluruh jenjang, dari PAUD, TK, SD, MI, SMP, MTs, SMA, MA, SMK, hingga SMKS.
Menurut Sutan, perbaikan tata kelola fasilitas itu penting agar peserta didik di Aceh Singkil mampu berprestasi di berbagai bidang. Ia menyebut cabang ekstrakurikuler edukatif, kesenian, dan olahraga sebagai ajang yang perlu didorong, mulai tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional.
Ia juga menyoroti pembinaan etika dan sopan santun peserta didik sebagai target perubahan yang paling dinantikan. Perubahan itu, lanjutnya, harus terasa di lingkungan sekolah, di tengah masyarakat, dan terutama di lingkungan keluarga tempat anak tumbuh.
Habibatussania menyatakan komitmen mendorong peningkatan mutu pendidikan di Aceh Singkil. Prioritas yang ia sebut mencakup penguatan peran keluarga, pembentukan karakter anak sejak dini, serta penciptaan suasana belajar yang inklusif dan menyenangkan.
"Kita yakin optimistis, melalui kebersamaan, kerja nyata, dan komitmen yang berkelanjutan, Bunda Guru dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan di Aceh Singkil. Dengan semangat Sekata Sepekat, kita bergandengan tangan menyiapkan generasi yang unggul, berdaya saing, berakhlak mulia, dan siap membawa Aceh Singkil menuju masa depan yang lebih gemilang," pungkasnya.
Pelantikan ini melengkapi rangkaian pengukuhan ibunda guru di kabupaten/kota se-Aceh. Bagi Aceh Singkil, ujian berikutnya adalah menerjemahkan amanah tersebut menjadi program yang menyentuh langsung ruang kelas dan keluarga.