BANDA ACEH — Kemudahan mengakses informasi beasiswa lewat internet dan pendaftaran perguruan tinggi luar negeri secara daring disebut belum cukup mendorong minat pemuda Aceh untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Bustanul Arifin, diaspora Aceh yang menetap di Australia, menilai persoalan motivasi dan perencanaan karier justru menjadi penghambat utama.
Menurut Bustanul, banyak pemuda Aceh yang tidak memiliki rencana karier sejak muda sehingga tidak terdorong meningkatkan keterampilan dan pengetahuan. Kondisi berbeda terlihat di kalangan masyarakat mampu, terutama yang tinggal di perkotaan, yang menurutnya memiliki kesadaran lebih tinggi untuk belajar dan berkarir.
Perkembangan teknologi digital telah mempermudah masyarakat mencari informasi peluang beasiswa. Pendaftaran ke berbagai perguruan tinggi luar negeri juga sudah dapat dilakukan secara daring, meski calon mahasiswa tetap harus memenuhi persyaratan dan standar yang ditentukan.
Bustanul menyebut peluang beasiswa tersedia melalui berbagai jalur, baik yang disediakan Pemerintah Indonesia maupun lembaga pemberi beasiswa di luar negeri. Namun, kelengkapan akses informasi tidak otomatis berbanding lurus dengan kesiapan calon pendaftar.
"Zaman sekarang untuk mengakses informasi beasiswa sangat mudah, namun yang menjadi kendala dominan yang dihadapi oleh masyarakat Aceh adalah kuranganya dorongan terutama di lingkungan untuk motivasi tinggi untuk belajar dan berkarir," kata Bustanul dalam wawancara bersama Nukilan.id pada Rabu (28/10/2026).
Bustanul menilai penguasaan bahasa internasional menjadi salah satu kemampuan yang perlu dipersiapkan pemuda Aceh untuk mendapatkan beasiswa luar negeri. Kemampuan itu umumnya menjadi persyaratan dalam proses seleksi perguruan tinggi maupun lembaga penyedia beasiswa.
Selain kemampuan bahasa, prestasi akademik juga menjadi aspek yang diperhitungkan dalam penerimaan mahasiswa di kampus luar negeri dan seleksi penerima beasiswa. Dua hal itu disebutnya saling melengkapi dalam menentukan kelayakan seorang pendaftar.
Calon penerima beasiswa perlu memiliki perencanaan karier dan pengembangan diri yang jelas, rasional, terukur, serta tersusun dengan baik. Bustanul menyebut hal tersebut menjadi bagian dari pertimbangan perguruan tinggi dan lembaga penyedia beasiswa dalam menilai kesiapan calon penerima.
Aspek lain yang tak kalah penting adalah kontribusi yang dapat diberikan calon penerima di lingkungan sekitar. Lembaga pemberi beasiswa, menurut Bustanul, cenderung memilih kandidat yang mampu memberi dampak setelah menyelesaikan studi.
"Terakhir persyaratan beasiswa yang jadi pertimbangan untuk menerima beasiswa biasanya ditanyakan mengenai kontribusi yang dapat diberikan di lingkungan sekitar, karena lembaga penerima beasisswa akan memberikan beasiswa kepada mereka yang mampu memberikan kontribusi di lingkungan sekitar," pungkasnya.