LHOKSUKON — Sebelum revitalisasi bergulir, sebagian siswa SMAN 2 Kesuma Bangsa terpaksa belajar di ruang terbuka, termasuk di bawah pohon kelapa. Banjir yang melanda Kecamatan Muara Batu pada November 2025 membuat air hampir mencapai tiga meter dan lumpur menutupi dinding hingga ketinggian sekitar satu meter.
Kerusakan yang ditimbulkan bukan hanya pada bangunan. Sarana dan prasarana sekolah rusak parah, dan aktivitas belajar terhenti hampir satu bulan.
Anggaran revitalisasi disalurkan bertahap. Tahap pertama sebesar Rp 403.012.000 dipakai untuk penanganan tiga ruang kelas, lalu dilanjutkan melalui tambahan anggaran tahap kedua.
Secara keseluruhan, cakupan pekerjaan meliputi delapan ruang kelas, satu perpustakaan, satu laboratorium komputer, dan satu laboratorium IPA. Delapan dari sembilan ruang kelas yang dimiliki sekolah kini telah direhabilitasi.
Dana bersumber dari APBN melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026 yang dikelola Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Cut Dewi Rosanti, guru yang mengajar di sekolah itu sejak 2019, mengingat betul kondisi setelah air surut. Para guru bergotong royong membersihkan lingkungan sekolah secara swadaya, meski sebagian dari mereka juga menjadi korban banjir di rumah masing-masing.
"Bukan hanya air yang masuk, tetapi juga lumpur. Banyak sarana dan prasarana yang rusak parah. Bisa dikatakan hampir semuanya," ungkap Dewi.
Ketika siswa kembali ke sekolah, keterbatasan ruang dan fasilitas memaksa kegiatan belajar berlangsung apa adanya. Dewi menyebut kenyamanan bukan prioritas saat itu.
"Kalau ditanya nyaman, jelas tidak nyaman. Namun, bagaimanapun kami harus tetap belajar. Siswa tidak mungkin terus terpuruk karena musibah ini. Pembelajaran harus terus berjalan," kata Dewi.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Aceh Utara Muhammad Johan menyebutkan sebanyak 32 SMA dan SMK yang terdampak banjir akhir 2025 masuk dalam program revitalisasi. Pada Agustus 2026, progres pekerjaan di sejumlah sekolah dilaporkan berada pada kisaran 60 hingga 95 persen.
Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, mengingatkan bahwa pemulihan sektor pendidikan membutuhkan waktu dan pengawalan.
"Karena memang tingkat kesulitannya tidak mudah, mengingat banyaknya yang terdampak dan kecepatan penanganan juga berbeda-beda di tiap daerah, kita prediksi tidak akan bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Tapi, kita berusaha untuk secepat mungkin selesai agar proses belajar mengajar bisa kembali berlangsung dalam suasana ideal," kata Tito di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Pemulihan tidak berhenti pada bangunan. Guru SMAN 2 Kesuma Bangsa baru-baru ini mengikuti pelatihan mitigasi bencana di Banda Aceh.
Dewi berharap pelatihan itu memperkuat kemampuan guru mendampingi siswa sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana.
Pemulihan pendidikan di wilayah terdampak dinilai tidak cukup ditandai selesainya rehabilitasi fisik. Diperlukan pula penguatan kapasitas pendidik, pemenuhan fasilitas pembelajaran, dan penciptaan lingkungan sekolah yang aman agar keberlangsungan pendidikan tetap terjaga bila bencana kembali terjadi.
Langkah tersebut sejalan dengan arah Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatera 2026-2028, yang menempatkan pemulihan sektor pendidikan sebagai salah satu prioritas rehabilitasi layanan sosial.