Pencarian

3.000 Hektare Tambak di Aceh Timur Terendam Lumpur Setinggi 80 Cm Pasca Banjir, Petani Minta Normalisasi Sungai

Senin, 01 Juni 2026 • 21:02:01 WIB
3.000 Hektare Tambak di Aceh Timur Terendam Lumpur Setinggi 80 Cm Pasca Banjir, Petani Minta Normalisasi Sungai
Petani di Aceh Timur menghadapi lumpur setinggi 80 cm yang merendam 3.000 hektare tambak pascabanjir.

ACEH TIMUR — Sekitar 3.000 hektare tambak di empat desa Kecamatan Madat, Aceh Timur, masih lumpuh pascabanjir yang merendam kawasan itu pada akhir tahun lalu. Lumpur sisa banjir mengendap di dasar sungai dan area tambak, membuat petani tidak bisa memulai siklus budidaya baru.

Kondisi ini dikeluhkan Nurdin, petani tambak asal Desa Lueng Peut. Ia mengatakan banjir tidak hanya merusak tambak, tetapi juga menghanyutkan bibit ikan dan udang milik warga. Kini, alur sungai yang dangkal membuat pasang laut tidak optimal masuk ke tambak.

"Kondisi ini membuat kami sangat terpuruk," ujarnya kepada media, Senin (1/6/2026).

Lumpur Setinggi 80 Sentimeter di Dalam Tambak

Abdul Gani (58), petani tambak lainnya, mengungkapkan sedimentasi lumpur di dalam tambak mencapai ketebalan rata-rata 60 hingga 80 sentimeter. "Tidak bisa kita turun ke dalam tambak karena sedimentasi lumpurnya hampir satu meter," katanya.

Ia menambahkan, benur ikan dan udang yang ditebar setelah banjir kerap tidak bertahan hidup. "Entah karena panas atau sebab lainnya, benur ikan dan udang mati saat ditebar dalam kolam tambak. Fenomena tersebut terjadi setelah banjir," tuturnya.

Kerugian Ditaksir Capai Puluhan Miliar Rupiah

Tokoh masyarakat Kecamatan Madat, Dahri Sulaiman yang akrab disapa Pang Koleh, memperkirakan kerugian petani tambak mencapai puluhan miliar rupiah. Angka itu disebut lebih besar dibandingkan kerugian di sektor pertanian akibat banjir yang sama.

"Sekitar puluhan miliar petani tambak menderita kerugian akibat bencana ini, bahkan lebih besar dibandingkan dengan kerugian di sektor pertanian," ujarnya saat meninjau kondisi alur sungai di Desa Abeuk Geulante.

Menurut Dahri, sektor tambak menjadi penopang utama ekonomi masyarakat pesisir di wilayah itu. Namun hingga tujuh bulan pascabanjir, belum ada bantuan khusus untuk pemulihan sektor perikanan budidaya.

"Kami membutuhkan perhatian serius di sektor tambak karena hasil tambak merupakan penopang kehidupan ekonomi masyarakat di kawasan pesisir," katanya.

Empat Desa Terdampak, Alur Sungai Sepanjang 40 Km Perlu Dinormalisasi

Dahri meminta pemerintah, termasuk instansi terkait penanggulangan bencana, segera melakukan rehabilitasi dan normalisasi alur sungai yang mengalami pendangkalan. Menurutnya, sentra ekonomi masyarakat harus menjadi prioritas dalam pemulihan pascabencana.

"Sentra ekonomi masyarakat harus menjadi prioritas dalam pemulihan pascabencana ini agar roda ekonomi masyarakat bisa tumbuh dan pulih seperti sedia kala," pungkasnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, empat desa di Kecamatan Madat yang terdampak pendangkalan alur sungai dan kerusakan tambak adalah Desa Abeuk Geulante, Lueng Peut, Lueng Dua, dan Meunasah Tingkeum. Panjang alur sungai yang dilaporkan mengalami pendangkalan mencapai sekitar 40 kilometer.

Bagikan
Sumber: suaraindonesia-news.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks