SINGKIL — Peristiwa itu bermula sekitar pukul 05.00 WIB. Erwin mendatangi jamban di pinggir sungai untuk bersuci. Saat membasuh kaki di tepi air, seekor buaya berukuran besar tiba-tiba muncul dan langsung menyambar kakinya.
Dalam keterbatasan komunikasi, Erwin berjuang melepaskan diri. Keributan itu menarik perhatian warga. Mereka segera mengevakuasi korban ke Puskesmas Singkil untuk mendapat perawatan intensif.
75 Persen Warga Adalah Nelayan Sungai, Ancaman di Depan Mata
Kepala Desa Teluk Rumbia, Pahrul Razi, menyatakan keprihatinan mendalam. Ia mendesak Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil dan BKSDA segera mengambil tindakan nyata.
“Ini bukan sekadar musibah, tapi ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup warga kami. Sekitar 75 persen penduduk Desa Teluk Rumbia adalah nelayan sungai. Jika konflik manusia dan buaya tidak segera ditangani, warga kami takut untuk mencari nafkah,” tegas Pahrul Razi.
Konflik Satwa Liar Kian Sering, Warga Hidup dalam Ketakutan
Kejadian ini menambah panjang catatan konflik antara manusia dan buaya di wilayah Aceh Singkil. Ketakutan kini melanda masyarakat pesisir dan nelayan yang setiap hari beraktivitas di sungai.
Belum ada pernyataan resmi dari BKSDA Aceh atau Pemkab Aceh Singkil terkait langkah penanganan pasca-insiden. Warga berharap ada patroli rutin atau relokasi satwa liar sebelum korban jiwa kembali berjatuhan.