Pencarian

BPH Migas: Pemakaian B50 di SPBU Aman, Sopir Truk Tak Lagi Khawatir Mesin Rusak

Jumat, 28 Agustus 2026 • 10:52:31 WIB
BPH Migas: Pemakaian B50 di SPBU Aman, Sopir Truk Tak Lagi Khawatir Mesin Rusak
Petugas BPH Migas memantau penggunaan B50 di SPBU untuk memastikan kelancaran distribusi biosolar.

ACEH — Penggunaan bahan bakar minyak (BBM) jenis biosolar dengan campuran biodiesel 50 persen atau B50 tidak lagi menuai kecemasan di kalangan pengguna jalan. Hasil pemantauan langsung Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menunjukkan kendaraan pribadi, armada logistik, hingga bus beroperasi normal memakai B50 tanpa kendala teknis berarti.

“Dalam perbincangan dengan sejumlah sopir truk dan pengguna mobil pribadi di SPBU-SPBU, yang tadinya khawatir dengan penggunaan biofuel, sekarang tidak lagi. Mereka menyampaikan testimoni langsung bahwa biofuel ini tidak merusak mesin,” ujar Fathul Nugroho kepada ANTARA, Jumat (28/8).

Respons Positif Pengemudi Truk dan Mobil Pribadi

Fathul menjelaskan, tanggapan positif justru datang dari para pengemudi truk yang kerap menempuh jarak jauh. Mereka menilai performa B50 setara dengan solar konvensional, sehingga aktivitas distribusi barang tidak terganggu. Temuan ini sekaligus membantah kekhawatiran awal masyarakat mengenai dampak negatif biofuel terhadap komponen mesin.

Secara teknis, kebijakan B50 dinilai aman dan berhasil di lapangan. BPH Migas menegaskan dukungannya terhadap program Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan swasembada energi nasional. Keberhasilan distribusi B50 menjadi fondasi penting untuk memperkuat kemandirian energi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah.

Dorongan Penambahan Fasilitas Penyimpanan FAME

Di balik kelancaran distribusi, BPH Migas menyoroti perlunya perhatian khusus pada pengelolaan bahan baku biodiesel, yakni Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Seiring meningkatnya produksi dan konsumsi B50, lembaga ini mendorong badan usaha untuk menambah fasilitas penyimpanan khusus FAME.

“Sebetulnya memang Badan Usaha bisa menggunakan fasilitas yang eksisting. Tapi karena sifat FAME yang cenderung higroskopis sehingga mudah menyerap air atau uap air, maka pengelolaannya membutuhkan perhatian khusus, terutama jika disimpan dalam waktu lama,” jelas Fathul.

Meski demikian, ia optimistis tantangan penyimpanan dapat diatasi seiring perkembangan teknologi dan kapasitas para pakar teknik serta lingkungan. Investasi pada tangki penyimpanan khusus dinilai penting untuk menjaga cadangan FAME tetap stabil, sehingga kebutuhan masyarakat akan biosolar terpenuhi tanpa hambatan.

“Bagi kami BPH Migas, yang penting adalah memastikan bahwa stok dan distribusi biodiesel hingga menjadi biosolar ini aman dan terkendali bagi masyarakat,” pungkasnya.

Keberhasilan tahap awal B50 ini menjadi sinyal positif bagi transisi energi di sektor transportasi Tanah Air. Dengan pengawasan ketat dan infrastruktur pendukung yang memadai, langkah menuju bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dan berdaulat secara energi bukan sekadar wacana.

Follow redaksiaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: voi.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks