Pencarian

Teman Tuli Aceh Besar Minta Rambu dan Lampu Peringatan Bencana, Rikal: Jujur Saya Berharap Ini Terwujud

Jumat, 02 Oktober 2026 • 07:01:01 WIB
Teman Tuli Aceh Besar Minta Rambu dan Lampu Peringatan Bencana, Rikal: Jujur Saya Berharap Ini Terwujud
Rikal menyampaikan aspirasi penyediaan rambu dan lampu peringatan bencana bagi teman Tuli dalam dialog kebijakan di Orion Hall, Aceh Besar.

ACEH BESAR — Permintaan itu muncul dalam dialog kebijakan bertema kepemimpinan perempuan untuk perdamaian, aksi kemanusiaan, dan Aceh yang tangguh. Rikal menyampaikan aspirasinya lewat bahasa isyarat di hadapan peserta yang membahas kesiapsiagaan bencana inklusif.

Menurut Rikal, rambu dan lampu peringatan berfungsi memberi tahu teman Tuli bahwa kondisi darurat sedang terjadi. Dengan begitu, mereka bisa segera mengambil langkah penyelamatan sebelum bencana meluas.

Mengapa Peringatan Berbasis Suara Tidak Cukup

Sistem peringatan bencana yang beredar di masyarakat umumnya mengandalkan sirene, pengumuman pengeras suara, atau instruksi lisan petugas. Bagi penyandang disabilitas tuli, jalur informasi itu tidak bisa diandalkan.

Rikal berharap pemerintah menghadirkan sistem peringatan visual sebagai alternatif. "Semoga ke depan pemerintah bisa membuat yang seperti itu. Jujur, saya berharap hal ini bisa benar-benar diwujudkan," ujar Rikal melalui bahasa isyarat.

Aspirasi Teman Tuli Masuk Pembahasan Kesiapsiagaan

Dialog di Orion Hall membahas kepemimpinan perempuan, aksi kemanusiaan, serta upaya membangun Aceh yang tangguh dan inklusif. Salah satu poin yang dibahas adalah memastikan kelompok penyandang disabilitas memperoleh akses setara dalam penanggulangan bencana.

Aspirasi Rikal menjadi bagian dari pembahasan soal pentingnya memasukkan kebutuhan penyandang disabilitas ke dalam perencanaan kesiapsiagaan. Penyediaan sistem peringatan visual disebut sebagai salah satu langkah memperluas akses informasi keselamatan.

Dialog Dihadiri Kemenko PMK hingga Flower Aceh

Dialog dimoderatori Presidium Balai Syura, Dr. Rasyidah. Hadir sebagai narasumber Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo; Kepala Bidang Ketahanan Ekonomi, Sosial, Budaya dan Organisasi Kemasyarakatan Kesbangpol Aceh, Muksalmina; serta Direktur Flower Aceh, Riswati.

Kegiatan ini dirangkai dengan pemutaran film dokumenter Inong Peudame – Together, We Were Brave. Film tersebut diproduksi UN Women Indonesia bersama AMAN Indonesia dan organisasi perempuan penggerak perdamaian.

Penyediaan rambu dan lampu peringatan bencana diharapkan tidak berhenti di forum dialog. Jika terwujud, teman Tuli di Aceh bisa mendapat informasi keselamatan pada saat yang sama dengan warga lain ketika bencana terjadi.

Follow redaksiaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: waspadaaceh.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks