JAKARTA — Berawal dari kegemaran bersilaturahmi, Amir Faisal Nek Muhammad membuka tempat berkumpul dengan suguhan kuliner Aceh di Apartemen Slipi pada 2015. Untuk menjaga cita rasa, ia mendatangkan juru masak langsung dari Aceh. Langkah itu menjadi titik awal tumbuhnya jaringan restoran yang kini tersebar di sejumlah kota.
Dari dapur kecil di apartemen, usaha tersebut berkembang menjadi beberapa gerai dengan nama The Atjeh Connection. Tiap cabang mengusung menu yang sama: mi Aceh, ayam tangkap, kari kambing, nasi gurih, hingga kue ade sebagai pendamping kopi sanger.
Duta Kuliner Aceh di Ibu Kota
Amir menyebut cita-citanya bukan sekadar berjualan makanan. Ia ingin restorannya menjadi perwakilan kuliner Aceh di Jakarta.
"Kami ingin menjadi duta kuliner Aceh di ibu kota serta menjadikan Aceh menjadi ikon nasional untuk Internasional," kata Amir kepada Dialeksis.
Ia juga berharap keberadaan The Atjeh Connection memberi dampak bagi masyarakat Aceh khususnya dan publik secara luas. Menurutnya, esensi usaha yang dijalankan harus punya arti untuk banyak orang.
Arti Nama dan Penanda Budaya
Nama The Atjeh Connection dipilih untuk menggambarkan fungsi tempat itu sebagai ruang pertemuan orang lewat makanan dan kopi. Ejaan "Atjeh" yang dipakai bukan tanpa alasan, begitu pula logo sosok berkupiah meukeutop yang menempel di identitas merek.
Kedua elemen itu membawa penanda budaya Aceh masuk ke ruang perjumpaan sehari-hari. Pengunjung yang datang untuk makan atau ngopi tetap bersinggungan dengan simbol-simbol khas Tanah Rencong.
Daftar Gerai di Sejumlah Kota
Di Jakarta Pusat, pengunjung bisa mendatangi gerai di Jalan Bendungan Hilir Raya No.56. Ada pula Neo Sabang di Jalan H. Agus Salim No.38, Kebon Sirih, serta The Atjeh Connection Classic di Jalan H. Agus Salim No.26-28.
Wilayah Jakarta Selatan punya beberapa titik: kawasan SCBD di Jalan Tulodong Bawah No.1, Selong; Jalan Tebet Timur Dalam Raya No.31B; dan Jalan Cipete Raya No.8F. Di luar Jakarta, jaringan ini hadir di Serpong, Tangerang, Banten.
Direktori The Atjeh Connection juga mencantumkan gerai Solo di Jalan Kutai Utara No.2, Sumber, Surakarta; gerai Surabaya di Jalan Arjuno No.15, Sawahan; serta gerai Jogja di Jalan Nyi Tjondrolukito No.88, Sinduadi, Sleman. Informasi menu, jam buka, dan reservasi rombongan bisa diakses lewat kanal resmi mereka, termasuk WhatsApp.
Merawat Rasa agar Tetap Dikenal
Hidangan yang terus dimasak dan disajikan membuka kesempatan bagi generasi berikutnya untuk mengenali kekhasannya. Menjaga karakter rasa menjadi bagian penting dalam proses itu. Kuliner Aceh sendiri menawarkan pilihan luas, dari makanan utama sampai kudapan pendamping kopi.
Bagi perantau Aceh, kehadiran kedai seperti ini menjadi tempat menemukan kembali keakraban rasa kampung halaman. Bagi pengunjung dari daerah lain, ia jadi pintu masuk mengenal kekayaan kuliner Tanah Rencong tanpa harus jauh-jauh terbang ke Banda Aceh.
Kolaborasi Seni dan Bantuan Meugang
Hubungan dengan Aceh juga tampak lewat kegiatan seni. Pada 22 Februari 2026, Keubitbit dan The Atjeh Connection berkolaborasi dalam pertunjukan musik yang direkam di Dieng. Dalam pemberitaan itu, Amir menyampaikan komitmen menyediakan dukungan dan jejaring agar talenta muda Aceh bisa berkembang.
Kepedulian terhadap tradisi hadir melalui Atjeh Connection Foundation. Pada 20 Maret 2026, yayasan tersebut menyalurkan seekor sapi meugang kepada warga terdampak banjir di Desa Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur. Bantuan itu menyambungkan pelaksanaan tradisi dengan solidaritas kepada warga yang tengah memulihkan kehidupan.
Rangkaian usaha kuliner, seni, dan kegiatan sosial itu memperlihatkan satu hal: identitas Aceh bisa dibawa lewat hidangan yang disantap dan percakapan yang tumbuh di sekeliling meja.