ACEH — Barry Hearn mengaku masih tertawa mengenang ledakan emosi John Sitton di ruang ganti Leyton Orient, salah satu pidato paling terkenal dalam sejarah sepak bola Inggris. Mantan pemilik klub itu menyebut rant tersebut sebagai momen yang kerap ia kutip hingga kini, meski pada akhirnya ia memutuskan berpisah dengan Sitton.
Hearn membeli Leyton Orient pada 1995 dengan harga yang jauh lebih murah dari yang diberitakan. Ia mengaku hanya membayar 2,43 pound kepada mantan chairman Tony Wood, tetapi harus menanggung utang klub senilai 2 juta pound.
Pengusaha yang sudah kaya dari bisnis snooker itu langsung memasang target ambisius. Ia menjanjikan sepak bola Premier League dalam lima tahun dan mengucurkan dana 1 juta pound per tahun untuk menutup kerugian klub.
"Saya masuk dan bilang, oke, satu juta pound per tahun itu kerugian kalian, saya akan tanggung," kata Hearn kepada FourFourTwo. "Saya bilang ke pers saya ingin sepak bola Premier League dalam lima tahun. Saya sama sekali tidak tahu soal permainan ini, tapi saya seorang promotor. Saya butuh headline."
Ledakan Sitton di Ruang Ganti Blackpool
Headline itu datang lewat sosok John Sitton, pelatih yang dikenal keras. Dalam laga melawan Blackpool, saat timnya tertinggal 1-0 di babak pertama, Sitton meledak di ruang ganti di depan kamera dokumenter Channel 4 bertajuk Club For A Fiver.
Ia memecat bek Terry Howard secara langsung di depan kamera, lalu menantang dua pemain lain berkelahi. "Kamu, kamu brengsek kecil, kalau saya suruh lakukan sesuatu, lakukan," bentaknya. "Dan kalau kamu balas saya, kita akan bereskan di sini. Kalian boleh berpasangan, pilih orang lain untuk membantu, dan bawa makan malam kalian. Karena setelah saya selesai dengan kalian, kalian akan membutuhkannya."
Hearn mengaku justru menikmati momen itu. "Saya suka rant itu," ujarnya. "Saya mengutipnya terus — 'dan bawa makan malam kalian'. Luar biasa."
Alasan Hearn Akhirnya Berpisah dengan Sitton
Meski menyukai karisma Sitton, Hearn mulai meragukan metode sang pelatih. Suatu hari ia menonton sesi latihan dan menyaksikan Sitton menghantam seorang pemain berusia 16 tahun.
"Saya pikir, tidak, itu bukan tipe orang saya," kata Hearn. "Bukan orang yang punya integritas."
Sitton akhirnya diminta pergi. Reputasinya dalam dokumenter membuat klub lain enggan merekrutnya, dan ia meninggalkan dunia sepak bola untuk menjadi sopir taksi black cab di London. "Dia gagal pada akhirnya dan saya harus memintanya pergi," kenang Hearn. "Kamu harus membuat keputusan sulit dalam olahraga."