BANDA ACEH — Peningkatan jumlah hewan kurban di Gampong Pango Deah tahun ini bukanlah peristiwa yang tiba-tiba. Keuchik (Kepala Desa) Pango Deah, Zulfikar, mengungkapkan bahwa angka itu adalah buah dari sistem arisan hewan kurban yang sudah lama diterapkan dan dikelola secara transparan oleh manajemen masjid bersama kantor desa.
Dalam sistem arisan ini, warga yang ingin berkurban secara patungan (tujuh orang per satu ekor sapi) hanya dikenakan kontribusi Rp 2,5 juta per orang. Nama-nama peserta arisan diumumkan di papan informasi masjid berbulan-bulan sebelum Iduladha tiba. Model ini dinilai efektif meringankan beban ekonomi warga sambil tetap memungkinkan mereka menjalankan ibadah kurban.
Dari total 19 sapi yang disembelih tahun ini, 16 ekor di antaranya merupakan hasil arisan warga. Sementara itu, tiga ekor sapi lainnya disembelih atas nama pribadi atau satu keluarga. Ini menunjukkan bahwa selain arisan, kesadaran berkurban secara individu juga tumbuh di gampong tersebut.
Dampak dari peningkatan jumlah hewan kurban ini langsung dirasakan oleh warga. Zulfikar menargetkan akan ada 1.007 tumpuk daging yang dibagikan siang hari itu. Angka ini melonjak drastis dibandingkan tahun lalu yang hanya 767 tumpuk.
Yang menarik, distribusi daging kurban di Gampong Pango Deah tidak hanya menyasar fakir, miskin, dan yatim, tetapi juga merata untuk setiap kepala keluarga (KK) di dua dusun, yaitu Dusun Damai dan Dusun Rukun. Total KK di gampong itu mencapai 460 KK, bertambah 8 KK dari tahun sebelumnya. Daging kurban juga akan dikirimkan ke keluarga penjaga pemakaman umum Gampong Pango Deah yang berada di Gampong Beurangong, Kemukiman Lambaro, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar.
Bagi Zulfikar, peningkatan jumlah hewan kurban ini bukan sekadar angka statistik. Ia melihatnya sebagai indikator positif dari meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan warga, di samping nilai ketakwaan mereka. "Saya berharap, jumlah warganya yang berkurban terus bertambah dari tahun ke tahun," ujarnya, seraya menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia yang terlibat sehingga proses penyembelihan dan pembagian berlangsung cepat.
Keberhasilan model arisan kurban di Gampong Pango Deah terletak pada transparansi dan akuntabilitasnya. Dengan pengumuman nama peserta di papan informasi masjid sejak jauh hari, warga memiliki kepastian dan kepercayaan terhadap pengelolaan dana. Mekanisme ini juga memungkinkan warga dengan kemampuan ekonomi terbatas untuk tetap bisa berkurban secara kolektif, yang pada akhirnya memperkuat solidaritas sosial di tingkat gampong.