JAKARTA — Angka penyaluran hewan kurban BSI tahun ini tercatat melonjak 57 persen dibandingkan tahun lalu yang hanya 15.272 ekor. Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menyebutkan, dari total 24.053 hewan kurban, sekitar 1.000 ekor merupakan sapi dan 23 ribu ekor lainnya adalah kambing.
"Alhamdulillah tahun ini jumlah nominal kurban yang disalurkan sebesar Rp67,8 miliar," ujar Anggoro dalam kegiatan simbolis penyaluran di Jakarta, Selasa.
BSI tidak sekadar menyalurkan hewan kurban. Perseroan merancang program ini agar memberikan multiplier effect bagi ekonomi kerakyatan. Sebanyak 37 peternak lokal dilibatkan langsung, dan 19 di antaranya merupakan binaan BSI yang tersebar di wilayah Aceh, Sumatera Selatan, Jabodetabek, Jawa, Sulawesi Selatan, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara.
Pihaknya ingin memastikan peternak binaan mendapatkan kepastian pasar dengan stok hewan yang terjaga kualitasnya. Dengan begitu, ekonomi tumbuh dari hulu ke hilir.
BSI juga mengimplementasikan distribusi hewan kurban ramah lingkungan dengan menggunakan besek bambu sebagai kemasan daging. Langkah ini merupakan bentuk tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan (sustainability).
"Besek ini juga sangat baik untuk menjadi tempat daging kurban karena bisa lebih awet karena tidak tertutup rapat," kata Anggoro.
Daging kurban direncanakan didistribusikan ke lebih dari 600 ribu kantong. Sasaran utamanya adalah masyarakat dhuafa, wilayah terdampak bencana, serta pesantren di seluruh Indonesia.
BSI menjamin seluruh hewan kurban yang disalurkan dalam kondisi sehat dan prima. Setiap ekor telah mengantongi sertifikat kelulusan uji klinis dari Rumah Potong Hewan (RPH) dan Dinas Peternakan setempat.
Wilayah 3T—tertinggal, terdepan, dan terluar—sering kali menjadi daerah yang paling sulit dijangkau oleh distribusi hewan kurban komersial. Dengan melibatkan peternak lokal di Aceh, Kalimantan, hingga NTT, BSI tidak hanya memastikan pasokan daging segar sampai ke pelosok, tetapi juga menghidupkan roda ekonomi peternak kecil yang selama ini bergantung pada pasar tradisional.
Program ini menjadi contoh bagaimana sektor perbankan syariah bisa berperan langsung dalam pengentasan kemiskinan dan ketahanan pangan di daerah terpencil.