BANDA ACEH — Asisten Pemerintahan, Keistimewaan, dan Kesejahteraan Rakyat Kota Banda Aceh, Bachtiar, mengungkapkan bahwa bimbingan teknis (bimtek) dakwah digital sudah mulai dijalankan atas arahan Wali Kota.
“Program ini sudah dibimtekkan oleh Ibu Wali Kota Banda Aceh sebagai bagian dari penguatan dakwah yang lebih relevan dengan perkembangan teknologi,” ujarnya dalam podcast yang digagas Sagoe TV bersama Kesbangpol setempat.
Pemkot Banda Aceh memfokuskan transformasi ini pada pengemasan pesan keagamaan dalam format yang sesuai dengan kebiasaan konsumsi digital masyarakat. Dakwah multimedia berupa video pendek, infografis, dan audio jadi prioritas.
Platform yang digunakan meliputi Instagram, TikTok, YouTube, dan podcast. Penyajiannya dibuat lebih singkat, visual, dan mudah dipahami tanpa meninggalkan esensi ajaran Islam.
Strategi kedua adalah pemberdayaan dai virtual. Para ustaz dan tokoh agama didorong untuk melek teknologi dan mampu memproduksi konten dakwah secara mandiri serta interaktif.
Pemkot menilai bahwa dai yang paham algoritma media sosial bisa menjangkau audiens lebih luas dibandingkan ceramah konvensional di forum terbatas.
Penguatan narasi positif di ruang digital juga menjadi agenda utama. Pemerintah ingin membendung penyebaran konten negatif seperti hoaks, paham radikalisme, dan pornografi yang kerap menyasar generasi muda.
“Tantangan utama dakwah saat ini adalah bagaimana menghadirkan konten keislaman yang mampu bersaing di ruang digital, tanpa kehilangan substansi nilai-nilai syariat,” tegas Bachtiar.
Pemkot Banda Aceh menegaskan bahwa digitalisasi dakwah bukan sekadar inovasi teknis. Pendekatan ini menunjukkan bahwa penerapan syariat Islam bersifat dinamis dan mampu mengikuti arus modernisasi.
Dengan strategi ini, Banda Aceh diharapkan menjadi role model bagi daerah lain dalam mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan inovasi teknologi. Targetnya, syiar Islam tidak hanya menjangkau lokal, tetapi juga nasional hingga global.