ACEH — Spanyol, yang merupakan juara bertahan Eropa dan peringkat dua dunia, harus puas berbagi angka dengan debutan Kape Verde yang berada 65 peringkat di bawah mereka. Kiper veteran Kape Verde, Vozinha (40 tahun), tampil gemilang dengan sederet penyelamatan krusial yang menggagalkan seluruh peluang La Roja.
Kiper 40 Tahun Jadi Momok La Roja
Penampilan disiplin Kape Verde di lini belakang menjadi kunci utama. Vozinha, yang bermain di usia 40 tahun, sukses membuat frustrasi lini serang Spanyol yang diperkuat pemain-pemain elite Eropa. Hasil ini menjadi kejutan pertama turnamen sepak bola pria yang baru pertama kali diikuti Kape Verde.
“Saya sangat antusias. Mereka adalah pemain yang sangat bagus. Kami tahu itu hanya hasil imbang, tapi ini baru permulaan. Kami 100 persen percaya pada mereka,” ujar Putellas saat ditemui dalam kampanye Lay’s ‘No Lay’s No Game’.
Dukungan dari Sang Legenda Wanita
Putellas, yang membawa Spanyol juara Piala Dunia Wanita 2023, memahami persis tekanan yang dihadapi tim putra. Ia menegaskan bahwa perjalanan menuju trofi tidak pernah ditentukan oleh laga pembuka. “Bukan bagaimana Anda memulai, tapi bagaimana Anda berkembang. Saya yakin kita akan melihat sepak bola yang hebat,” tambah pemilik dua Ballon d'Or Wanita itu.
Spanyol tergabung di Grup H bersama Uruguay, Arab Saudi, dan Kape Verde. Setelah hasil imbang kontra Kape Verde, Luis de la Fuente langsung merespons dengan kemenangan telak 4-0 atas Arab Saudi di laga kedua. Hasil itu membuat mereka kembali berada di jalur yang tepat untuk lolos ke babak 32 besar.
Putellas: Semua Mata Tertuju pada Piala Dunia
Bagi Putellas, atmosfer Piala Dunia adalah sesuatu yang tak tergantikan. “Perasaan ketika semua orang menonton kompetisi, seluruh dunia fokus pada itu—saya merasakannya. Itu sangat menyenangkan,” katanya. Ia pun mengaku sudah tidak sabar menatap Piala Dunia Wanita 2027 di Brasil, di mana Spanyol akan mempertahankan gelar juara.
Spanyol kini berada di kursi pengemudi Grup H setelah kemenangan meyakinkan atas Arab Saudi. Dua laga tersisa akan menentukan apakah kepercayaan diri Putellas terbukti—atau justru menjadi bumerang bagi raksasa Eropa tersebut.