ACEH TIMUR — Digitalisasi pertanian yang selama ini identik dengan teknologi canggih, ternyata sudah mulai menyentuh sendi-sendi usaha tani di Aceh Timur. Para petani di kabupaten itu perlahan meninggalkan kebiasaan berjualan dengan sistem tatap muka atau informasi dari mulut ke mulut.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Aceh Timur, Masri, menyebutkan bahwa telepon seluler dan aplikasi pesan instan seperti WhatsApp kini menjadi alat utama. “Petani di Aceh Timur sudah banyak memanfaatkan telepon seluler dan aplikasi pesan instan seperti WhatsApp untuk berkomunikasi mengenai harga, jadwal panen, jumlah kebutuhan, hingga proses transaksi jual beli,” katanya di Aceh Timur, Rabu.
Menurut Masri, tanpa disadari, langkah sederhana ini adalah bentuk digitalisasi yang nyata. “Secara tidak langsung, petani dengan sendirinya telah melakukan digitalisasi, walaupun dalam konteks komunikasi antara petani dan pembeli hasil pertanian,” ujarnya.
Ia menilai, perkembangan digitalisasi membuat arus informasi menjadi lebih cepat dan efisien dibandingkan sebelumnya. Manfaat ini dinilai paling terasa pada komoditas yang memiliki rantai distribusi lebih panjang, seperti hortikultura, perkebunan, dan produk olahan.
Masri menekankan bahwa penerapan digitalisasi tidak bisa disamaratakan untuk semua jenis komoditas. Setiap sektor pertanian memiliki kebutuhan dan tantangan yang berbeda.
Masri menambahkan, ke depan penguatan sektor pertanian tidak hanya fokus pada aspek pemasaran. Peningkatan produksi, efisiensi usaha tani, serta pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan menjadi prioritas utama.
“Pemanfaatan digitalisasi, komunikasi petani maupun pelaku usaha pertanian bisa lebih cepat serta dapat menjangkau pemasaran hasil pertanian lebih luas,” kata Masri. Pemerintah daerah pun diharapkan terus mendorong adopsi teknologi yang relevan agar sektor pertanian Aceh Timur semakin kompetitif.