ACEH — Kritikan Trump disampaikan langsung di hadapan publik tanpa basa-basi. Menurutnya, penurunan harga minyak mentah seharusnya diikuti secara otomatis oleh penurunan harga BBM eceran. Namun, yang terjadi di lapangan justru sebaliknya: harga di pompa bensin tetap tinggi, sementara keuntungan perusahaan minyak membengkak.
Trump secara spesifik menyoroti disparitas antara harga minyak mentah dan harga BBM ritel. Dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak mentah dunia memang menunjukkan tren penurunan signifikan. Logika pasar sederhana: biaya produksi turun, harga jual seharusnya ikut turun.
“Perusahaan-perusahaan minyak besar terus meraup untung besar, sementara rakyat Amerika harus membayar harga BBM yang tetap mahal. Ini tidak adil,” ujar Trump dalam sebuah pernyataan yang dikutip SinPo.id.
Trump menegaskan bahwa konsumen adalah pihak yang paling merasakan dampak negatif dari situasi ini. Kenaikan harga BBM tidak hanya membebani pengeluaran rumah tangga, tetapi juga memicu efek domino pada harga barang dan jasa lain. Biaya transportasi yang tinggi membuat harga kebutuhan pokok ikut melambung.
“Rakyat Amerika sudah cukup menderita dengan inflasi. Mereka tidak seharusnya menjadi sapi perah perusahaan minyak,” tambahnya.
Pernyataan Trump ini menjadi tekanan politik baru bagi perusahaan-perusahaan seperti ExxonMobil, Chevron, dan ConocoPhillips. Para eksekutif perusahaan tersebut biasanya berdalih bahwa harga BBM tidak semata-mata ditentukan oleh harga minyak mentah. Faktor lain seperti biaya kilang, distribusi, dan margin pengecer juga berperan.
Namun, argumen itu tidak mempan di hadapan Trump. Ia mendesak agar perusahaan minyak segera menurunkan harga BBM secara proporsional. Jika tidak, ia mengancam akan mengambil langkah-langkah regulasi yang lebih keras untuk melindungi konsumen.
Meskipun ini adalah isu domestik Amerika Serikat, fluktuasi harga BBM di negara adidaya itu kerap berdampak ke pasar global. Amerika adalah konsumen minyak terbesar dunia. Kebijakan harga di sana bisa mempengaruhi sentimen pasar minyak mentah internasional.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi pengingat betapa rapuhnya ketahanan energi nasional. Ketika harga minyak dunia turun, tekanan pada APBN untuk subsidi BBM berkurang. Tapi jika harga BBM di AS naik lagi, harga minyak bisa kembali terpompa, dan Indonesia harus siap dengan dampaknya.