BANDA ACEH — Suaka Margasatwa Rawa Singkil (SMRS) yang dikenal sebagai habitat dengan kepadatan populasi orangutan Sumatera tertinggi di dunia masih menghadapi ancaman serius. Perambahan lahan, ekspansi perkebunan kelapa sawit, dan hilangnya tutupan hutan disebut sebagai tekanan utama yang terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi inilah yang mendorong HAkA bersama MAA Kabupaten Aceh Singkil untuk mendokumentasikan pengalaman dan pengetahuan masyarakat melalui sebuah buku.
Buku “Rawa Singkil Adalah Hidup Kami” tidak hanya menyajikan data ekologis, tetapi juga merekam hubungan emosional dan kultural antara masyarakat dengan kawasan gambut tersebut. “SM Rawa Singkil bukan sekadar kawasan hutan rawa gambut, tetapi ruang hidup bagi masyarakat dan habitat penting bagi keanekaragaman hayati,” ujar Manager Legal dan Advokasi bidang Non-Litigasi Yayasan HAkA, Nurul Ikhsan, dalam sambutannya.
Penulis buku, Ahmady, menjelaskan bahwa naskah ini mengupas kondisi terkini kawasan, ragam kearifan lokal, pergeseran budaya, hingga perjuangan masyarakat dalam menjaga ekosistem. “Kampanye pelestarian, peringatan atas banyaknya korporasi yang mengintai kekayaan, serta penjelasan kondisi kerusakan yang terus terjadi di SM Rawa Singkil merupakan beberapa poin utama yang diceritakan,” kata Ahmady.
Ketua MAA Kabupaten Aceh Singkil, Zakirun Pohan, menekankan bahwa upaya pelestarian tidak akan berhasil tanpa keterlibatan langsung masyarakat pemegang hak ulayat. “Masyarakat setempat merupakan pihak yang paling memahami kondisi lapangan dan dapat berperan sebagai garda terdepan dalam menjaga Rawa Singkil dari berbagai ancaman kerusakan,” tegas Zakirun. Ia mendorong pengelolaan yang lebih terintegrasi, termasuk pengaturan akses masuk kawasan melalui jalur terkontrol dan penguatan prinsip konservasi berbasis adat.
Zakirun juga mengusulkan agar setiap pohon yang ditebang diganti dengan penanaman kembali sebagai bentuk tanggung jawab ekologis bersama. Dalam diskusi tersebut, ia menyoroti perlunya penyesuaian istilah dalam buku dengan Kamus Bahasa Singkil serta penelusuran sejarah lain yang terkait dengan kawasan itu.
Diskusi yang digelar di Hotel Ayani itu menghadirkan Thabrani Yunis, pegiat literasi dan Pendiri Majalah Potret serta Majalah Anak Cerdas, sebagai penanggap. Ia menyoroti pentingnya penguatan narasi dan strategi penyebarluasan isu lingkungan kepada publik agar pesan konservasi lebih efektif. Acara ini dihadiri perwakilan organisasi masyarakat sipil, akademisi, lembaga konservasi, pemerintah daerah, hingga mahasiswa. Para peserta memberikan masukan terkait substansi, sistematika penulisan, dan penguatan data sosial-budaya dalam naskah.
Melalui forum ini, HAkA berharap dapat mengumpulkan rekomendasi konstruktif untuk penyempurnaan buku sebelum diterbitkan. Selain itu, diskusi ini diharapkan mampu memperkuat kolaborasi multipihak dalam mendorong perlindungan dan pelestarian Rawa Singkil secara berkelanjutan.