Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Lebih dari 1.300 Orang Tewas; WHO Sebut Lansia Paling Berisiko

Penulis: Ricki Manurung  •  Senin, 29 Juni 2026 | 16:25:31 WIB
Suhu ekstrem di Eropa mencapai rekor tertinggi, menyebabkan gangguan transportasi di Leipzig, Jerman.

JAKARTA — Suhu udara di sejumlah negara Eropa memecahkan rekor sepanjang sejarah. Di Jerman, termometer mencapai 41,7 derajat Celcius, sementara Republik Ceko mencatat 41,9 derajat Celcius di Doksany, dan Polandia menembus 40,5 derajat Celcius di Slubice. Panas yang luar biasa ini bahkan melelehkan bitumen—bahan perekat konstruksi jalan—hingga merusak permukaan aspal dan rel trem di kota Leipzig, Jerman, sehingga layanan transportasi umum terpaksa dihentikan sementara.

WHO: Sebagian Besar Korban Berusia 65 Tahun ke Atas

Data WHO menunjukkan lonjakan kematian terjadi di Prancis, dengan sekitar 1.000 kasus kematian lebih tinggi dari perkiraan normal sejak Rabu pekan lalu. Tedros menegaskan bahwa rumah, tempat kerja, maupun sekolah di Eropa pada umumnya tidak dirancang untuk menahan suhu setinggi ini.

"Rumah, tempat kerja, maupun sekolah di Eropa pada umumnya tidak dirancang untuk menahan suhu setinggi ini," kata Tedros dalam pernyataan resminya, Minggu (28/6/2026).

Fenomena Omega Block Jadi Pemicu

Para ahli meteorologi menjelaskan bahwa gelombang panas ini dipicu oleh fenomena cuaca bernama Omega Block. Pola ini membentuk sistem tekanan udara tinggi yang berfungsi seperti penghalang, mengunci gumpalan udara panas di satu wilayah dalam waktu lama dan menghambat masuknya aliran udara dingin.

Kondisi ini diperparah oleh pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil dan penggundulan hutan. Data menunjukkan bahwa kemungkinan terjadinya malam hari dengan suhu tetap tinggi di musim panas kini menjadi 100 kali lebih besar dibandingkan dua dekade silam.

191 Juta Orang Hadapi Suhu Minimum 35 Derajat

WHO memperkirakan pada akhir pekan ini, sekitar 191 juta orang di Eropa harus menghadapi suhu minimum yang mencapai 35 derajat Celcius. Eropa merupakan benua dengan laju pemanasan paling cepat di dunia, yakni dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan rata-rata suhu global.

Beban panas ini tidak hanya menekan sektor kesehatan, tetapi juga mengganggu aktivitas publik. Sejumlah sekolah terpaksa ditutup, jaringan listrik mengalami lonjakan permintaan daya yang berat, dan berbagai acara publik diubah secara mendadak.

Kompetisi olahraga Ironman di Frankfurt, Jerman, mempersingkat rute perlombaan, sedangkan Festival Musik Garorock di Prancis dibatalkan sepenuhnya demi keselamatan peserta dan penonton.

WHO Imbau Negara Anggota Siapkan Rencana Aksi Kesehatan

Menyikapi situasi ini, WHO secara tegas mengimbau seluruh negara anggota untuk segera menerapkan rencana aksi kesehatan nasional guna melindungi warganya dari risiko stres panas. Otoritas setempat diminta memantau kondisi lansia dan kelompok rentan lainnya, serta menyediakan tempat-tempat ber-AC umum agar warga bisa menghindari paparan panas langsung.

Para pengamat lingkungan menekankan bahwa kejadian ini menjadi bukti nyata bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang terjadi dan membutuhkan tindakan nyata untuk mengurangi dampaknya. (*)

Reporter: Ricki Manurung
Sumber: waspadaaceh.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top