Mulizar, perajin tahu di Banda Aceh, mengaku mengirimkan pasokan setiap pekan ke sejumlah dapur MBG. "Ada yang dipasok langsung ke dapur MBG, ada juga melalui pabrik tahu lain yang produksinya kurang," ujarnya, Senin.
Dapur tujuan tersebar di Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, dan Lamno di Kabupaten Aceh Jaya. Satu ember berisi 288 potong tahu, sehingga total pasokan pekanan mencapai lebih dari 1.700 potong. Pengelola dapur langsung mengambil tahu dari pabrik tempat pembuatan.
Kenaikan harga kedelai menjadi kendala utama. Dari Rp9.500 per kilogram, kini perajin harus membayar Rp11.600. Menurut Mulizar, lonjakan ini dipengaruhi nilai tukar dolar Amerika Serikat.
Untuk bertahan, perajin mengurangi ukuran tahu tanpa menaikkan harga jual. "Kalau kami menaikkan harga, perajin lain belum tentu melakukan hal serupa. Akibatnya, tahu kami tidak laku lagi," katanya. Harga per papan tetap Rp50 ribu untuk 20 hingga 30 potong.
Mulizar mengaku sudah mendengar rencana subsidi kedelai dari pemerintah, tetapi belum tahu kapan mulai direalisasikan. "Kami mengharapkan subsidi kedelai segera terealisasi. Subsidi ini membantu perajin tahu tempe mendapatkan bahan baku lebih murah, sehingga berdampak pada keberlangsungan usaha," ujarnya.
Program MBG dinilai membantu perajin bertahan di tengah tekanan biaya produksi. Pasokan rutin ke dapur-dapur MBG menjaga omzet tetap stabil, meskipun margin keuntungan semakin tipis akibat kenaikan harga kedelai.