Keuchik Pulo Ara Desak Pembersihan Sedimentasi Waduk Paya Laot di Bireuen: 14 Gampong Terancam Gagal Tanam Akibat Krisis Air Irigasi

Penulis: Ricki Manurung  •  Selasa, 30 Juni 2026 | 02:45:31 WIB
Keuchik Pulo Ara menyoroti penurunan kapasitas Waduk Paya Laot akibat sedimentasi yang mengancam pasokan air irigasi.

BIREUEN — Muhammad Amin, Keuchik Gampong Pulo Ara, Mukim Alue Rheng, Kecamatan Peudada, mendesak pemerintah segera membersihkan sedimentasi Waduk Paya Laot. Ia menilai endapan lumpur yang menumpuk telah menurunkan kapasitas tampung waduk secara drastis, sehingga mengancam pasokan air bagi lahan pertanian di wilayah tersebut.

Menurut Amin, sebagian kawasan persawahan—terutama di Mukim Blang Birah dan Mukim Krueng—bergantung pada sistem irigasi dari Sungai Peudada. Namun, dalam empat tahun terakhir, areal persawahan itu kerap gagal tanam setelah tanggul Brandang Hagu sisi kanan jebol akibat banjir pada akhir 2023. Kerusakan itu memutus pasokan air yang sebelumnya mengalir melalui jaringan irigasi.

Enam Gampong Berupaya Kembali ke Lahan Sawah

Saat ini, enam gampong berupaya membuka kembali lahan persawahan dengan memanfaatkan bantuan penampung air dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen. Upaya ini bertujuan menghidupkan lahan yang sebelumnya tidak dapat ditanami agar kembali produktif bagi petani.

Di sisi lain, sebagian besar sawah tadah hujan di Kecamatan Peudada telah ada sejak masa kemerdekaan dan belum berubah status menjadi sawah irigasi. Kondisi ini terutama terjadi di Mukim Alue Rheng, Mukim Tgk Di Paya, dan Mukim Pintoe Batee, yang masih bergantung pada curah hujan serta aliran air dari Waduk Paya Laot.

Sedikitnya 14 gampong terdampak: Pulo Ara, Cot Laot, Dayah Mon Ara, Blang Bati, Keude Alue Rheng, Pulo Lawang, Paya Timu, Paya, Paya Barat, Seuneubok Paya, Blang Geulumpang, Gampong Baro, Karing, dan Dusun Teungoh Meunasah Alue.

Petani Hanya Panen Sekali Setahun

“Petani hanya panen sekali setahun saat musim hujan. Tapi jika salah waktu, sering gagal tanam atau gagal panen karena kekurangan air,” kata Muhammad Amin, Minggu (28/6/2026).

Ia berharap pemerintah segera membersihkan sedimentasi Waduk Paya Laot agar kapasitas tampung air kembali optimal. Dengan demikian, petani di wilayah itu bisa menanam padi secara rutin hingga dua kali dalam setahun.

Amin menambahkan, pembersihan sedimentasi terakhir dilakukan pada 2020 oleh Gubernur Irwandi Yusuf (BW). Namun, selama lima tahun terakhir waduk tersebut belum kembali dibersihkan.

Banjir November 2025 Perparah Endapan Lumpur

Menurut Amin, endapan lumpur semakin bertambah setelah banjir pada 26 November 2025 membawa material baru yang menumpuk di atas sedimentasi lama. Akibatnya, air hanya tertampung di bagian atas lapisan lumpur, sehingga genangan lebih cepat penuh dan mendekati tanggul.

Ia menilai kondisi itu juga meningkatkan risiko jika debit air tidak dikendalikan saat hujan melalui pintu air. Tanpa pengelolaan yang baik, tanggul dikhawatirkan jebol dan menyebabkan genangan di sejumlah wilayah, termasuk Gampong Keude Alue Rheng, Pulo Lawang, Seuneubok Paya, Paya Timu, dan Karing.

Luas Sawah Tadah Hujan Capai 442 Hektare

Sementara itu, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Peudada, Zulfikar, menyebut luas sawah tadah hujan di Kecamatan Peudada mencapai sekitar 442 hektare. Khusus di Desa Cot Laot, terdapat sekitar 20 hektare sawah tadah hujan.

“Luas sawah tadah hujan keseluruhan untuk Kec. Peudada sekitar 442 Ha. Untuk Desa Cot Laot sekitar 20 Ha dan sampai saat ini warga melakukan penanaman sekitar 8 Ha,” ujar Zulfikar melalui pesan WhatsApp.

Ia mengatakan data tersebut berdasarkan laporan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) yang mencatat hingga saat ini masyarakat di Desa Cot Laot telah menanami sekitar 8 hektare lahan sawah.

Reporter: Ricki Manurung
Sumber: komparatif.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top