JAKARTA — Keubitbit, grup musik asal Aceh yang memadukan tradisi dengan jazz kontemporer, kembali menembus panggung dunia. Mereka dijadwalkan manggung selama dua hari di Niagara Jazz Festival, Kanada, dalam program World Music on the Beach.
Grup yang dipimpin oleh Safrullah, akrab disapa Aloel, akan berangkat pada 3 Juli dan pulang ke Indonesia pada 8 Juli 2026. Undangan ini menjadi pengakuan keenam yang mereka terima di kancah global dalam tiga tahun belakangan.
Pada penampilan nanti, Keubitbit mengusung tema “Akulah Malaka”. Karya ini merefleksikan posisi strategis Selat Malaka sebagai jalur peradaban dunia sekaligus simbol keterbukaan dan spiritualitas Aceh.
Lewat komposisi tersebut, grup ingin menyampaikan bahwa Aceh bukan hanya punya sejarah besar sebagai gerbang perdagangan. Ada nilai perdamaian, ketangguhan, dan persaudaraan yang ditawarkan di tengah tantangan global.
Musiknya memadukan elemen tradisi Aceh dengan aransemen jazz kontemporer. Tujuannya, identitas lokal bisa diterima publik internasional dalam bahasa musik yang universal.
Keberangkatan Keubitbit tidak lepas dari dukungan diaspora Aceh. Mustafa Abubakar bersama Sayutinur, Ketua Diaspora Global Aceh Chapter Skandinavia, menjadi salah satu motor penggerak utama misi budaya ini.
Sponsor utama berasal dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sejumlah mitra lain turut mendukung, antara lain PT Mifa, PT BEL, PT Jamkrindo, Bank Syariah Indonesia (BSI), Peruri, dan MDB.
Dukungan juga mengalir dari Majelis Adat Aceh (MAA) yang dipimpin Surya Darma, serta musisi nasional seperti Kadri Mohamad, Yovie Widianto, dan Rafly Kande yang selama ini menjadi mentor Keubitbit.
Niagara Jazz Festival bukan sekadar panggung musik. Festival ini mempertemukan musisi dari berbagai negara untuk memperkenalkan keragaman budaya di hadapan publik internasional.
Keubitbit berharap penampilan mereka bisa memperkenalkan kekayaan musik tradisional Aceh sekaligus memperkuat posisi budaya Indonesia sebagai bagian dari peradaban dunia.
Keberhasilan ini, menurut pihak grup, menjadi refleksi penting tentang perlunya dukungan lebih besar terhadap pelaku seni dan budaya daerah. Tanpa itu, diplomasi budaya Indonesia di tingkat global sulit diperkuat secara berkelanjutan.