BANDA ACEH — Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Balai Kota Banda Aceh, Senin (6/7/2026), berubah menjadi momentum refleksi serius bagi jajaran aparatur sipil negara (ASN). Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal, yang memimpin apel gabungan, mengingatkan bahwa gawai dan akses digital tanpa kendali telah menjadi ancaman nyata jika keluarga gagal menjadi filter utama.
Illiza menyoroti tiga pilar utama yang harus diperkuat untuk membangun ketahanan keluarga. Pertama, aspek kesehatan yang difokuskan pada penanganan stunting dan pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Kedua, pendidikan karakter di mana keluarga menjadi ruang utama pembentukan nilai integritas, kejujuran, dan kedisiplinan.
“Ketiga, ketahanan mental. Keluarga perlu menjadi pelabuhan emosional yang stabil di tengah era yang penuh tekanan,” ujar Illiza di hadapan ribuan ASN. Ia menekankan bahwa anak-anak harus tumbuh resilien, mampu menghadapi tekanan tanpa kehilangan jati diri.
Dalam sambutan yang dibacakan Illiza, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN mengingatkan bahwa Indonesia saat ini berada pada momentum bonus demografi. Jika tidak diiringi peningkatan kualitas sumber daya manusia, ledakan usia produktif justru bisa berubah menjadi bencana demografi.
“Ledakan pengangguran dan runtuhnya stabilitas sosial mengintai jika generasi muda tidak berkualitas,” tegas Illiza mengutip sambutan tertulis tersebut. Ia pun melontarkan pertanyaan reflektif kepada para ASN: “Sudahkah keluarga kita menjadi tempat bernaung yang aman, tangguh, dan siap melahirkan generasi pemenang?”
Di luar konteks Harganas, Illiza juga mengingatkan bahwa Pemko Banda Aceh telah memasuki semester kedua 2026. Sejumlah program mulai menunjukkan hasil, namun percepatan kinerja masih dibutuhkan. Ia menyebut revitalisasi sejumlah kawasan strategis tengah berjalan, seperti Taman Bustanussalatin, Taman Putroe Phang, dan kawasan Jalan Tgk. Chik Pante Kulu.
Proyek-proyek itu diharapkan menghadirkan ruang publik yang lebih nyaman dan ramah masyarakat. Illiza juga meluncurkan program Dakwah Umum Kolaborasi untuk memperkuat syiar Islam melalui kerja sama lintas pihak. “Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Ulama, akademisi, media, dunia usaha, dan keluarga punya peran masing-masing,” ujarnya.
Menutup apel, Illiza mendorong seluruh ASN untuk meningkatkan integritas, kedisiplinan, serta pelayanan kepada masyarakat. Ia meminta mereka menjadi teladan di lingkungan masing-masing, terutama dalam menjaga nilai-nilai Islam sebagai identitas Banda Aceh. “Kota Kolaborasi ini butuh keterlibatan semua elemen,” pungkasnya.[]