ACEH — Dayah di Aceh bukan sekadar lembaga pendidikan. Institusi ini telah menjadi fondasi karakter dan cara pandang masyarakat Serambi Mekkah jauh sebelum republik ini berdiri, bahkan sejak masa Kerajaan Peureulak dan Samudera Pasai. Di dalamnya, transmisi ilmu berjalan beriringan dengan penanaman adab, sebuah proses yang oleh cendekiawan Syed Muhammad Naquib al-Attas disebut sebagai inti pendidikan Islam: bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan menanamkan kesadaran akan tempat yang tepat bagi segala sesuatu.
Namun, pemandangan di sebuah dayah di kaki bukit Aceh kini menyiratkan tantangan baru. Di sana, seorang santri masih setia membungkuk di atas kitab nahwu, mengeja bait-bait dengan irama warisan guru dan guru dari gurunya. Di saat bersamaan, telepon pintar di saku sarungnya bergetar, menawarkan jawaban instan atas pertanyaan fikih yang mungkin butuh bertahun-tahun dikuasai lewat sanad. Dua cahaya—lampu minyak dan layar ponsel—kini menyatu dalam genggaman anak muda Aceh.
Kemudahan akses ilmu melalui kanal YouTube dan aplikasi digital menjadi tantangan paling nyata. Informasi agama kini tersedia gratis di ujung jari, membuat proses panjang belajar di dayah terlihat tidak efisien. Padahal, menurut para pengamat, informasi bukanlah ilmu. Ilmu tanpa adab dan sanad justru berbahaya, melahirkan kepercayaan diri yang dangkal alih-alih kedalaman pemahaman.
Peran dayah melampaui ruang belajar. Bahasa Aceh, hikayat, hingga tradisi meudike dan etika sosial, sebagian besar dirawat dalam ekosistem dayah. Saat modernitas menggerus kearifan lokal di daerah lain, dayah menjadi ruang penyimpanan memori kolektif yang tetap hidup. Lebih dari itu, teungku dayah kerap menjadi rujukan penyelesaian sengketa dan penggerak solidaritas sosial, terbukti setelah tsunami 2004 ketika jaringan dayah menjadi simpul pemulihan sosial paling cepat bekerja.
Secara kuantitas, dayah bukan gejala pinggiran. Data Dinas Pendidikan Dayah Aceh mencatat lebih dari seribu dayah—baik salafiyah maupun terpadu—yang menampung ratusan ribu santri. Angka ini menegaskan bahwa dayah masih dipercaya ratusan ribu keluarga Aceh untuk menitipkan masa depan anak-anak mereka. Namun, kepercayaan bukan jaminan abadi. Kegagalan beradaptasi akan berbiaya besar, tidak hanya bagi dayah, tetapi bagi seluruh wajah keislaman dan ke-Aceh-an.
Masa depan pendidikan Islam di Aceh tidak akan ditentukan oleh siapa yang menang antara tradisi dan inovasi. Relevansi dayah bergantung pada seberapa cerdas institusi ini menganyam keduanya menjadi tenunan yang utuh, menjaga kedalaman ilmu sekaligus menyambut kemudahan zaman.