SIGLI — Senin pagi, 13 Juli 2026, akan menjadi hari istimewa bagi ribuan keluarga di Kabupaten Pidie dan sekitarnya. Tahun ajaran baru dimulai, jalan-jalan kembali dipenuhi anak-anak berseragam rapi, dan para orang tua bergegas mengantar buah hati menuju gerbang sekolah.
Bagi sebagian orang, rutinitas ini mungkin terasa biasa. Namun, Wakil Ketua MAA Kabupaten Pidie sekaligus Ketua Prodi Studi Islam S2 STAI Nusantara Banda Aceh, Dr. Safwan, melihatnya sebagai kesempatan emas yang kerap terlewatkan.
Menurut Dr. Safwan, di tengah kesibukan modern yang dipenuhi gawai, waktu berkualitas antara orang tua dan anak semakin langka. “Ironisnya, kita sering berada di rumah yang sama, tetapi sibuk dengan layar masing-masing,” ujarnya dalam artikel yang dikutip NOA.co.id.
Perjalanan 15 hingga 30 menit menuju sekolah, baik dengan sepeda motor, mobil, atau berjalan kaki, justru menjadi ruang percakapan tanpa gangguan. Di sanalah orang tua bisa mendengarkan cerita anak, mengetahui kegelisahan mereka, atau sekadar tertawa bersama karena hal-hal sederhana.
Lebih dari sekadar mengobrol, perjalanan pagi juga menjadi kelas kehidupan. Anak-anak secara langsung menyaksikan bagaimana orang tua bersikap saat menghadapi kemacetan, mematuhi aturan lalu lintas, hingga menyapa tetangga di sepanjang jalan. “Tanpa disadari, semua itu adalah proses pewarisan nilai yang jauh lebih efektif daripada sekadar nasihat panjang di rumah,” tulis Dr. Safwan.
Kehadiran orang tua di pagi hari juga memberikan rasa aman. Sebuah pelukan, senyuman, atau lambaian tangan sebelum masuk gerbang sekolah disebutnya mampu menjadi energi positif yang menemani anak sepanjang hari.
Dr. Safwan mengakui tidak semua orang tua memiliki kesempatan yang sama karena tuntutan pekerjaan atau ekonomi. Namun, bagi yang bisa, terutama di hari-hari penting seperti awal tahun ajaran, momen ini layak dijaga sebagai tradisi keluarga.
“Sebab, ketika anak telah dewasa, mereka mungkin tidak lagi mengingat hadiah-hadiah mahal. Akan tetapi, mereka akan selalu mengingat hangatnya perjalanan pagi bersama ayah atau ibu,” kata Dr. Safwan.
Memori sederhana itulah yang kelak membentuk cara mereka memaknai kasih sayang, keluarga, dan kehadiran orang tua. Pada akhirnya, mengantar anak ke sekolah bukan hanya memastikan mereka tiba tepat waktu, tetapi memastikan mereka memulai hari dengan cinta dan rasa aman.
“Masa depan anak tidak hanya dibangun oleh pelajaran di ruang kelas, tetapi juga oleh percakapan-percakapan sederhana di sepanjang perjalanan menuju sekolah,” pungkasnya.