BANDA ACEH — FKG USK tidak lagi hanya berfokus pada proses belajar-mengajar. Melalui program bertajuk Dentistry USK Enterprise Initiative (DEI), fakultas ini membidik pendapatan mandiri lewat empat unit bisnis yang terintegrasi dengan pendidikan, riset, dan layanan kesehatan.
Keempat unit tersebut adalah Dental Continuing Education Center, Disaster Dental Center, Research Contract Unit, dan Digital Dentistry Center. Seluruhnya dirancang sebagai ruang kolaborasi antara kampus, pemerintah, dunia usaha, organisasi profesi, dan mitra internasional.
Menurut Zulfan, selama ini hasil riset dosen—mulai dari biomaterial, kesehatan gigi, hingga pemanfaatan biodiversitas Aceh—belum sepenuhnya memiliki nilai ekonomi. “Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan. Kampus juga harus mampu melahirkan inovasi yang dimanfaatkan masyarakat dan menciptakan sumber pendapatan yang sehat,” ujarnya, Selasa (14/7/2026).
Melalui Research Contract Unit, FKG USK akan membuka peluang riset bersama pemerintah dan sektor industri. Targetnya, peningkatan jumlah hak kekayaan intelektual, paten, hingga produk inovasi yang siap dipasarkan.
Dental Continuing Education Center diproyeksikan menjadi pusat pelatihan profesi berkelanjutan bagi dokter gigi. Program yang ditawarkan mencakup teknologi digital kedokteran gigi hingga implant dentistry.
Sementara itu, Disaster Dental Center mengembangkan kapasitas di bidang kedokteran gigi forensik dan identifikasi korban bencana. Program ini dinilai relevan dengan pengalaman Aceh sebagai daerah yang kerap dilanda bencana alam.
Adapun Digital Dentistry Center diarahkan menjadi pusat transformasi digital fakultas. Unit ini juga menjadi inkubator inovasi bagi mahasiswa dan alumni di bidang teknologi kedokteran gigi.
Seluruh program ini masuk dalam agenda 100 hari pertama kepemimpinan Zulfan. Pada tahap awal, fakultas akan melakukan audit akademik dan organisasi, memperkuat tata kelola berbasis digital, memetakan kesiapan sumber daya manusia, serta menyusun model bisnis bagi setiap unit.
“Kami ingin membangun sistem terlebih dahulu sebelum menjalankan bisnisnya. Fondasi tata kelola harus kuat agar seluruh unit mampu tumbuh secara berkelanjutan,” tegas Zulfan.
Untuk mempercepat transformasi, FKG USK akan melakukan studi banding ke sejumlah perguruan tinggi yang telah berhasil mengelola unit usaha akademik. Di antaranya FKG Universitas Airlangga, Universitas Indonesia, serta Pusat Pengembangan Ekonomi dan Bisnis FEB Universitas Gadjah Mada.
Zulfan menekankan, keberhasilan transformasi ini tidak bisa dicapai sendiri. Ia mengajak pemerintah daerah, rumah sakit, industri farmasi, perusahaan alat kesehatan, BUMN, sektor migas, organisasi profesi, alumni, hingga lembaga pendidikan di ASEAN untuk membangun kemitraan jangka panjang.
Bentuk kerja sama yang ditawarkan meliputi riset bersama, pengembangan teknologi, penyelenggaraan pelatihan, investasi fasilitas pendidikan, program magang, hingga penyerapan lulusan. “Kami membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya. Kampus harus menjadi mitra strategis bagi dunia usaha dan pemerintah,” kata Zulfan.
Seluruh agenda ini merupakan bagian dari visi “Dentopreneur Unggul, Inovatif, Berdampak ASEAN”, yang menyatukan pendidikan, riset, pelayanan kesehatan, inovasi, dan kewirausahaan dalam satu ekosistem pembangunan fakultas.