BANDA ACEH — Operasi hulu migas di Aceh kembali menunjukkan tanda pemulihan. BPMA bersama PGE sukses melaksanakan lifting perdana kondensat dari WK B setelah produksi sempat terhenti akibat kebakaran fasilitas dan bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut.
Kapal MT Double Seven mengangkut total muatan sebesar 95.483,33 barel dengan tujuan Kilang TPPI Tuban, Jawa Timur. Pengiriman ini menjadi bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri yang sempat terganggu.
Kargo yang diangkut terdiri dari dua bagian. Sebanyak 90.000 barel merupakan realisasi proforma lifting (PPL) Juni 2026, sementara 5.483,33 barel sisanya adalah lifting periode bulan berjalan.
Keberhasilan ini menjadi langkah awal yang krusial. BPMA sendiri menargetkan lifting gabungan gas dan minyak di seluruh wilayah kerja Aceh pada 2026 sebesar 10.519 BOEPD (barrel of oil equivalent per day).
Deputi Operasi BPMA Muhammad Mulyawan menyebut lifting perdana ini memiliki makna strategis. "Menandai kembali bergulirnya penyaluran kondensat setelah menghadapi gangguan akibat kebakaran fasilitas dan bencana banjir Aceh," ujarnya di Banda Aceh, Selasa.
Menurut Mulyawan, keberhasilan ini membuktikan bahwa sinergi antara BPMA, PGE, pengelola terminal, dan seluruh pemangku kepentingan mampu menghadirkan solusi operasional di tengah berbagai tantangan. Ia menambahkan, BPMA akan terus memberikan dukungan penuh kepada KKKS untuk mempercepat pemulihan fasilitas produksi maupun penyaluran.
Kepala Divisi Operasi Produksi BPMA, Ibnu Hafizh, menjelaskan bahwa pengapalan ini dilakukan melalui skenario jangka pendek penyimpanan kondensat pasca kebakaran tangki run down. "Langkah awal yang sangat penting dalam memulihkan kinerja lifting WK B," katanya.
Ia berharap skenario-skenario lanjutan yang telah disusun dapat segera diwujudkan. Dengan begitu, target lifting WK B 2026 dapat terus dikejar dan dipenuhi sesuai rencana meskipun fasilitas utama masih dalam tahap pemulihan.
Ke depan, BPMA bakal terus mendorong optimalisasi produksi dan lifting dari seluruh wilayah kerja migas di Aceh. Hal ini sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional di tengah kondisi yang masih penuh tantangan.