ACEH — PLN UP3 Kotamobagu tidak hanya bekerja memulihkan jaringan listrik saat banjir bandang menerjang Desa Solimandungan I dan II di Kabupaten Bolaang Mongondow awal tahun ini. Tim perusahaan setrum negara itu langsung bergerak menyalurkan paket bantuan darurat berupa sembako, air mineral, kasur, tikar, hingga tandon air bersih untuk mempercepat pemulihan warga terdampak.
Namun, komitmen sosial PLN tidak berhenti pada bantuan darurat yang bersifat sementara. Di Desa Liberia Timur, kabupaten yang sama, PLN membangun infrastruktur jangka panjang berupa jalan perkebunan. Langkah ini diambil karena sektor pertanian menyumbang porsi terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah, namun selama ini petani terbebani biaya logistik pascapanen yang membengkak hingga 30 persen akibat akses jalan yang buruk.
Petani Bisa Angkut Hasil Panen Tanpa Biaya Mahal
Sangadi (Kepala Desa) Liberia Timur, Rival Mahdum, mengakui dampak positif infrastruktur anyar itu. Menurutnya, jalan perkebunan yang layak telah memotong rantai distribusi yang selama ini menyulitkan petani saat musim panen tiba.
“Pembangunan jalan perkebunan ini memberikan manfaat yang sangat besar. Sekarang petani jauh lebih mudah mengangkut hasil panen, dan aktivitas ekonomi desa otomatis meningkat,” ujar Rival dalam pernyataan yang dikutip pekan lalu.
PLN: Bukan Sekadar Corporate Social Responsibility Biasa
Manager PLN UP3 Kotamobagu, Reki Wowiling, menegaskan bahwa seluruh program yang bergulir selama enam bulan pertama 2026 merupakan buah sinergi dengan para pemangku kepentingan. Pihaknya memosisikan diri sebagai mitra strategis pembangunan daerah, bukan sekadar penyedia daya listrik.
“Kami tidak hanya berfokus pada penyediaan listrik yang andal, tetapi juga berkomitmen menjawab kebutuhan nyata masyarakat di lapangan. Selama Semester I Tahun 2026, kami berupaya hadir lewat program yang tepat sasaran demi memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan,” kata Reki.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Utara, Tengah, dan Gorontalo (Suluttenggo), Usman Bangun, melihat akselerasi program TJSL ini sebagai bentuk nyata kehadiran negara. Menurutnya, alokasi anggaran sosial korporasi harus bertindak sebagai stimulus ekonomi berkelanjutan, bukan sekadar instrumen filantropi jangka pendek.
“Setiap rupiah yang dialokasikan dalam program TJSL harus mampu menjadi stimulus bagi kesejahteraan masyarakat. Apa yang dilakukan oleh PLN UP3 Kotamobagu di Semester I ini adalah bukti bahwa korporasi hadir di garis depan, baik saat masyarakat menghadapi masa sulit akibat bencana, maupun dalam membangun fondasi ekonomi desa,” jelas Usman.
Keberhasilan implementasi program ini bertumpu pada kolaborasi erat antara korporasi, pemerintah daerah, pemerintah desa, serta elemen masyarakat setempat. Sinergi lintas sektor menjadi kunci agar setiap bantuan yang dikucurkan tepat sasaran dan berdaya guna dalam jangka panjang. PLN berkomitmen memperluas penerima manfaat program ini di seluruh wilayah Suluttenggo demi menciptakan pemerataan ekonomi yang berkelanjutan.