Kaca Atap Surya Fuyao 150W/m² Siap Dipasang di Mobil, BYD Jadi Pemesan Pertama?

Penulis: Jonatan Nasution  •  Selasa, 25 Agustus 2026 | 02:33:01 WIB
Kaca atap surya Fuyao 150W/m² dipamerkan sebagai produk anyar yang mampu mengubah energi matahari menjadi listrik.

ACEH — Kabar ini bermula dari daftar produk anyar Fuyao Glass yang dipublikasikan baru-baru ini. Perusahaan asal Tiongkok itu mengklaim kaca atap transparan buatannya mampu menyedot energi surya dan mengubahnya menjadi listrik. Angka 150W per meter persegi memang terdengar impresif, mengingat panel surya konvensional saat ini hanya menghasilkan sekitar 200W per meter persegi. Namun, perlu dicermati: kaca ini tembus pandang, sehingga efisiensinya otomatis di bawah panel standar yang buram.

Media Tiongkok menyebutkan BYD berencana menjadikan kaca ini sebagai opsi di sejumlah model EV-nya. Harganya disebut-sebut 8.000 Yuan, dan dengan luasan atap yang tersedia, total daya puncak yang bisa dihasilkan mencapai 720W. Sayangnya, baik Fuyao maupun BYD belum memberikan konfirmasi resmi terkait kerja sama ini.

Mengapa Panel Surya Tidak Bisa Menggerakkan Mobil Secara Langsung?

Gagasan mobil bertenaga surya memang sudah lama diuji, terutama dalam kompetisi mahasiswa seperti Electrek American Solar Challenge. Namun, mobil-mobil yang berlaga di ajang itu adalah kendaraan ultralight dengan satu kursi, jauh dari bentuk SUV atau sedan yang kita kenal sehari-hari. Secara fisika, energi matahari yang jatuh ke permukaan seluas atap mobil tidak akan pernah cukup untuk melawan bobot kendaraan standar dan hambatan angin saat melaju.

Aptera, perusahaan rintisan yang getol mengembangkan mobil listrik berpanel surya, adalah contoh nyata. Setelah bertahun-tahun riset, mereka akhirnya punya prototipe yang bisa dikendarai. Namun, mobil itu tetap tidak bisa sepenuhnya mandiri energi saat dipakai di jalan raya. Daya surya hanya cukup untuk menambah jarak tempuh harian, itupun jika mobil diparkir di tempat terbuka tanpa naungan pohon atau gedung.

Daya 720W Cukup untuk Apa Saja?

Jika angka 720W itu benar, alokasi paling masuk akal adalah untuk memberi makan perangkat elektronik berdaya kecil. Fuyao sendiri menyebutkan beberapa skenario penggunaan: menyalakan AC saat mesin mati, mendukung konektivitas internet di dalam kabin, atau mengoperasikan dashcam dan fitur keamanan ala Sentry Mode milik Tesla yang dikenal boros daya.

Pada mobil berbahan bakar bensin, energi ini bisa dimanfaatkan untuk menjalankan sistem infotainment dan pendingin tanpa harus khawatir aki tekor. Pada mobil listrik, daya tersebut membantu mengurangi beban baterai utama sehingga interval pengisian daya bisa sedikit diregangkan. Yang terpenting, Fuyao tidak pernah memasarkan produk ini sebagai pemasok tenaga penggerak roda. Dalam video demonstrasinya, mereka bahkan menggunakan BMW bermesin bensin sebagai contoh pemasangan.

Potensi Masuk Indonesia dan Kendala yang Menghadang

Sebagai pemasok global, bukan tidak mungkin teknologi ini kelak menyentuh pasar Indonesia. Namun, efektivitasnya di lapangan masih menjadi pertanyaan besar. Untuk perjalanan pendek di perkotaan, daya 720W dalam kondisi matahari terik bisa menambah jangkauan beberapa kilometer saja—angka yang terlalu kecil untuk membuat perbedaan signifikan pada mobilitas harian.

Belum lagi masalah biaya. Dengan estimasi harga Rp 18,9 juta untuk satu opsi atap kaca, konsumen Indonesia mungkin akan berpikir dua kali. Lagipula, untuk jarak tempuh yang sangat pendek sekalipun, kendaraan roda dua listrik tetap menjadi solusi yang jauh lebih efisien dan ekonomis. Meski begitu, langkah Fuyao ini tetap patut diapresiasi sebagai inovasi yang memperluas definisi kaca mobil, dari sekadar pelindung dan peneduh, menjadi elemen aktif penghasil energi.

Reporter: Jonatan Nasution
Sumber: electrek.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top