BANDA ACEH — Manuskrip Al-Qur’an tulisan tangan Teungku Chik Lampaloh tidak hanya berisi teks suci, tetapi juga menyimpan berbagai catatan pinggir yang merekam praktik keilmuan dan transmisi pengetahuan ulama Aceh tempo dulu. Kondisi fisiknya yang mulai rapuh mendorong digitalisasi agar informasi di dalamnya tidak hilang.
Penelitian ini digarap oleh Nurrahmi, mahasiswa Program Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry, bersama tim yang terdiri dari Prof. Dr. Mujiburrahman M.Ag, Prof. Syamsul Rijal M.Ag, Dr. Zubaidah M.Ed, dan Fathin Zhafira Fauzi ST.
Nurrahmi menjelaskan, sejumlah halaman manuskrip sudah rapuh dan sebagian tulisannya mulai memudar sehingga sulit dibaca. Kondisi ini diperparah oleh penggunaan tinta berbasis besi yang lazim dipakai pada masa penulisan naskah, tetapi berpotensi menimbulkan efek korosif terhadap kertas dalam jangka panjang.
"Digitalisasi bukan hanya mengubah manuskrip menjadi bentuk digital, tetapi juga menjadi upaya menjaga pengetahuan yang terkandung di dalamnya agar tetap dapat dipelajari dan diwariskan," kata Nurrahmi dalam keterangannya, Jumat (28/8/2026).
Penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif ini menerapkan tiga tahapan kerja. Pertama, pra-digitalisasi yang meliputi pemilihan manuskrip, verifikasi hak cipta dan kepemilikan, pencatatan data bibliografi, serta persiapan peralatan.
Tahap kedua adalah digitalisasi yang mencakup pengambilan gambar, pemeriksaan kualitas citra, pembuatan file master, pengeditan metadata, dan konversi file. Pada tahap akhir, hasil digitalisasi dikemas dan didokumentasikan secara sistematis.
Hasil penelitian menunjukkan tahapan tersebut mampu mengurangi risiko kerusakan pada bagian-bagian paratekstual manuskrip, seperti catatan pinggir, kolofon, dan anotasi. Bagian-bagian ini kerap menjadi kunci untuk menelusuri jaringan ulama serta kondisi sosial-keagamaan ketika naskah ditulis.
Kerangka kerja yang ditawarkan penelitian ini pun dinilai dapat diadopsi oleh perpustakaan, arsip, museum, maupun lembaga pengelola warisan budaya lain. Dengan digitalisasi, kebutuhan untuk menangani manuskrip asli secara langsung berkurang, sehingga keawetannya lebih terjaga.
Penelitian tersebut dipresentasikan dalam 10th International Library and Information Science Society Conference (I-LISS) 2026 di Universiti Teknologi MARA (UiTM), Shah Alam, Selangor, Malaysia, pada 26-28 Agustus 2026.
Dalam forum itu, Nurrahmi menampilkan kondisi dan isi manuskrip melalui video yang memuat penjelasan Masykur S.Hum, Direktur Pedir Museum Aceh, serta Abdullah Maulani M.Hum dari DREAMSEA. Sebelumnya, manuskrip Teungku Chik Lampaloh juga pernah menjadi objek kajian tim peneliti UIN Ar-Raniry bersama Al-Azhar University untuk menelusuri praktik keilmuan dan transmisi pengetahuan dari masa penulisannya.