ACEH — Minat pengemudi Inggris terhadap mobil buatan China melonjak signifikan dalam dua tahun terakhir. Data terbaru dari platform jual-beli mobil Carwow mencatat hampir separuh responden—tepatnya 49%—kini terbuka untuk membeli kendaraan dari produsen Tiongkok sebagai kendaraan pengganti. Angka ini berbanding terbalik dengan catatan awal 2023 yang hanya 24%.
Tingkat pengenalan merek meningkat pesat, meski belum merata. Dari riset yang sama, 71% pengemudi Inggris sudah mengenal BYD, diikuti Jaecoo 69%, Omoda 57%, dan Chery 50%. Xpeng berada di posisi paling bawah dengan kesadaran merek hanya 20%.
Yang menarik, proporsi pengemudi yang tidak mengenal satu pun merek mobil China turun drastis. Pada akhir 2025 angkanya 23%, kini menyusut ke 16%. Artinya, paparan merek-merek ini di jalanan dan media Inggris mulai membuahkan hasil.
Kesenjangan antara minat beli dan daya ingat merek menjadi temuan paling menarik. Banyak pengemudi yang mempertimbangkan mobil China namun kesulitan menyebutkan nama mereknya secara spontan. Carwow menilai ini indikasi minat yang tumbuh, tetapi loyalitas merek belum terbentuk kuat di benak konsumen.
Kondisi ini wajar mengingat siklus hidup merek-merek tersebut di Eropa masih muda. BYD, Chery, dan kelompoknya baru serius menggarap pasar Inggris dalam beberapa tahun terakhir, sementara merek Eropa mapan punya sejarah puluhan tahun.
Riset ini tidak menyentuh kesiapan infrastruktur purna jual, yang kerap jadi pertimbangan utama konsumen. Di Inggris, jaringan dealer dan pusat servis merek China masih terbatas dibandingkan merek Jepang atau Eropa. Hal yang sama berlaku di Indonesia—kehadiran BYD, Chery, dan Wuling memang masif, tapi ketersediaan suku cadang dan waktu tunggu servis masih jadi pertanyaan besar.
Harga jual kembali (resale value) juga belum teruji. Mobil China yang baru masuk pasar biasanya mengalami depresiasi lebih dalam karena pasokan baru dan reputasi jangka panjang yang belum terbentuk. Ini pertimbangan krusial untuk pembeli yang terbiasa ganti mobil tiap 3-5 tahun.
Data dari Inggris ini relevan untuk membaca arah pasar otomotif dalam negeri. Merek yang sama—BYD, Chery, Jaecoo, Omoda—sudah resmi dijual di Indonesia dengan harga mulai ratusan juta rupiah. Pola adopsi konsumen Indonesia biasanya mengikuti tren global dengan jeda 1-2 tahun.
Namun, konteksnya berbeda. Insentif kendaraan listrik di Indonesia lebih agresif, tapi infrastruktur charging masih terbatas di luar Jawa. Konsumen Indonesia cenderung lebih pragmatis: mereka akan menunggu bukti durabilitas dan ketersediaan suku cadang sebelum beralih dari merek Jepang yang sudah terbukti.
Kesimpulannya, minat tinggi bukan jaminan penjualan langsung. Merek China masih harus membuktikan diri dalam hal keandalan jangka panjang dan layanan purna jual—baik di Inggris maupun Indonesia.