Inflasi Agustus 2026 Tembus 3,19%, BI Rate Berisiko Naik Lagi

Penulis: Parsaoran Hutapea  •  Selasa, 01 September 2026 | 19:41:01 WIB
Pedagang melayani pembeli di pasar tradisional saat harga pangan mendorong inflasi Agustus 2026 mencapai 3,19 persen.

ACEH — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Agustus 2026 mencapai 3,19% YoY, lebih tinggi dari posisi Juli 2026 di 2,88% dan di atas konsensus pasar yang memperkirakan 3,12%. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,21% MoM, berbalik dari deflasi 0,14% pada bulan sebelumnya. Angka ini masih berada dalam rentang target Bank Indonesia sebesar 2,5% ± 1%.

Harga Pangan Jadi Pemicu Utama Lonjakan Inflasi

Kenaikan inflasi bulan lalu didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Harga daging ayam ras, cabai rawit, ikan, dan beras tercatat naik signifikan. Inflasi inti juga ikut meningkat ke 2,92% YoY dari 2,76% YoY, melampaui perkiraan analis yang memproyeksikan 2,86%.

Sementara itu, sektor manufaktur masih belum pulih. S&P Global mencatat Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke 49,8 pada Agustus 2026, di bawah level netral 50 dan lebih rendah dari 50,2 di Juli. Produksi dan ketenagakerjaan masing-masing telah terkontraksi dalam lima dari enam bulan terakhir akibat persaingan ketat, permintaan yang lemah, dan kenaikan harga barang.

Neraca Dagang Kembali Surplus, Tapi Ketergantungan Batu Bara Menguat

BPS juga melaporkan neraca perdagangan Juli 2026 berbalik mencetak surplus tipis US$0,12 miliar, membaik dari defisit US$450 juta pada Juni dan mengakhiri tren negatif dua bulan beruntun. Surplus ditopang sektor non-migas sebesar US$3,1 miliar, terutama dari ekspor pertambangan yang tumbuh 14,85% YoY dan industri pengolahan yang naik 6,03%.

Sektor migas masih menjadi beban dengan defisit US$2,98 miliar, seiring impor migas yang melonjak 49,91% YoY. Data kumulatif Januari-Juli 2026 menunjukkan kenaikan nilai ekspor komoditas utama seperti batu bara, CPO, dan besi baja lebih banyak didorong oleh kenaikan harga, bukan volume.

Sinyal BI Rate Naik Lagi?

Kombinasi inflasi yang tinggi dan potensi menguatnya fenomena El Nino hingga kuartal IV 2026 menjadi kekhawatiran utama. Di sisi lain, sikap hawkish The Fed menambah tekanan pada nilai tukar rupiah. Kondisi ini mendorong spekulasi bahwa Bank Indonesia akan kembali menaikkan suku bunga—kontras dengan konsensus ekonom yang memperkirakan BI Rate bertahan di 5,75% hingga akhir tahun.

Saham Konsumer Tertekan, Perbankan Lebih Menarik

Bagi investor, inflasi tinggi berpotensi menekan margin sektor konsumer akibat kenaikan harga bahan baku. Sebaliknya, sektor perbankan dinilai memiliki prospek lebih baik dengan tiga pendukung: likuiditas yang tidak sekencang perkiraan, momentum pertumbuhan kredit yang mulai menguat, dan kualitas aset yang terjaga.

Pemain Batu Bara: PTBA Cetak Laba Bersih Rp2,6 Triliun

Di tengah data makro yang beragam, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatat laba bersih sekitar Rp1,8 triliun pada kuartal II 2026, tumbuh 319% YoY. Secara kumulatif, laba semester I 2026 mencapai Rp2,6 triliun atau naik 218% YoY, melampaui ekspektasi karena setara 66% dari estimasi konsensus tahun penuh. Kenaikan harga jual rata-rata 15% QoQ menjadi sekitar Rp1,1 juta per ton dan volume penjualan yang tumbuh 7% menjadi pendorong utama ekspansi margin.

Perusahaan juga mulai memulihkan produksi setelah penurunan signifikan pada kuartal I 2026. Volume produksi semester pertama mencapai 19,4 juta ton, setara 39% dari guidance manajemen tahun ini.

Adapun PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mulai membangun fasilitas coal-to-methanol dengan kapasitas produksi 2 juta ton per tahun. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyebut output fasilitas ini akan menggantikan impor metanol yang selama ini digunakan dalam produksi biodiesel.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Parsaoran Hutapea
Sumber: snips.stockbit.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top