ACEH — Kontrak acuan CPO untuk pengiriman November ditutup menguat pada perdagangan siang hingga pukul 15.48 WIB. Trader berbasis di Kuala Lumpur menyebut kenaikan harga produk turunan sawit di China menjadi katalis utama yang menjaga pasar tetap berada di zona positif.
"Penguatan palm olein di Dalian memberikan dukungan terhadap harga CPO," ujar seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur, seperti dikutip Reuters.
Di bursa Dalian, kontrak minyak kedelai yang paling aktif naik 0,22 persen. Sementara itu, kontrak palm oil mengalami apresiasi lebih tinggi sebesar 1,06 persen. Pergerakan ini menunjukkan preferensi pasar terhadap minyak sawit yang harganya relatif lebih kompetitif dibandingkan minyak kedelai.
Lonjakan harga di China kerap menjadi acuan utama bagi pelaku pasar sawit global. Sebab, China merupakan salah satu importir minyak nabati terbesar di dunia, dan pergerakan harga di bursa Dalian kerap kali mendahului sentimen di Malaysia dan Indonesia sebagai negara produsen utama.
Di sisi lain, perdagangan di Chicago Board of Trade (CBOT) sempat ditutup lantaran bertepatan dengan hari libur nasional di Amerika Serikat. Kondisi ini membuat sebagian pelaku pasar mengalihkan fokus transaksinya ke bursa Asia, sehingga likuiditas dan volume perdagangan di Dalian serta Kuala Lumpur menjadi lebih aktif dari biasanya.
Penguatan harga dalam dua hari beruntun ini juga terjadi di tengah kekhawatiran pasokan global yang masih terbatas. Musim produksi yang belum mencapai puncaknya di beberapa wilayah Asia Tenggara turut menjadi faktor penopang harga di level psikologis 5.000 ringgit.
Bagi Indonesia, penguatan harga CPO ini menjadi angin segar bagi penerimaan ekspor. Sebagai produsen sawit terbesar dunia, setiap kenaikan harga di bursa acuan Malaysia akan berdampak langsung pada harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani. Jika tren positif ini berlanjut dalam beberapa pekan ke depan, daya beli petani sawit berpotensi membaik.
Para analis menilai level resistance terdekat berada di kisaran 5.000 ringgit per metrik ton. Jika tembus, bukan tidak mungkin harga akan menuju level tertinggi baru dalam beberapa bulan terakhir. Namun, pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi koreksi jika data produksi dari Malaysia dan Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan pada akhir kuartal.