Pencarian

Pabrik Bahan Baku Baterai Mobil Listrik Raksasa Mulai Dibangun di Morowali, Suplai 3 Juta Unit per Tahun

Sabtu, 25 Juli 2026 • 14:43:01 WIB
Pabrik Bahan Baku Baterai Mobil Listrik Raksasa Mulai Dibangun di Morowali, Suplai 3 Juta Unit per Tahun

ACEHPT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI) — perusahaan patungan antara EcoPro (Korea Selatan), GEM Co. Ltd. (Tiongkok), dan PT Vale Indonesia — memasang autoclave High Pressure Acid Leach (HPAL) generasi terbaru di kawasan International Green Industrial Park (IGIP), Morowali. Autoclave itu memiliki kapasitas 1.268 meter kubik, diklaim sebagai yang terbesar yang pernah dipasang di fasilitas HPAL dunia.

Autoclave Raksasa untuk Efisiensi dan Emisi Rendah

Teknologi HPAL ini dirancang untuk mengolah bijih nikel menjadi MHP — bahan baku utama katoda baterai kendaraan listrik. Dengan volume tangki sebesar itu, kapasitas pengolahan naik signifikan, efisiensi energi lebih baik, dan proses produksi lebih stabil. Pabrik juga menerapkan sistem waste heat recovery dan panel surya sebagai bagian dari target net zero emissions.

Kapasitas produksi pabrik mencapai 90.000 ton MHP per tahun. Setelah diolah lebih lanjut menjadi nikel sulfat, prekursor, dan material katoda aktif, bahan tersebut cukup untuk memproduksi baterai bagi sekitar 3 juta mobil listrik setiap tahunnya.

Investasi Rp 30 Triliun Hasil Kolaborasi Tiga Negara

Nilai investasi proyek ini mencapai 1,845 miliar dollar AS atau setara Rp 30,1 triliun. Pembangunannya ditargetkan rampung pada akhir 2026, dan operasi komersial dijadwalkan mulai pada kuartal pertama 2027.

Chairman GEM Co. Ltd., Profesor Xu Kaihua, menegaskan proyek ini merupakan wujud kolaborasi strategis Indonesia, Korea Selatan, dan China. “BNSI menggabungkan sumber daya nikel Indonesia dengan teknologi pengolahan GEM serta pengalaman EcoPro di industri baterai,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (24/7/2026).

Ekspor Rp 24,5 Triliun per Tahun dan 5.000 Lapangan Kerja

Setelah beroperasi penuh, pabrik diproyeksikan menghasilkan nilai ekspor sekitar 1,5 miliar dollar AS (Rp 24,5 triliun) per tahun. Selain itu, akan terbuka 5.000 lapangan kerja langsung.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan fasilitas ini adalah gerbang pertama dari klaster industri hijau yang lebih panjang. “Dimulai dari HPAL, kemudian berlanjut ke nikel sulfat, prekursor, material katoda aktif, hingga baterai kendaraan listrik,” jelas Rosan. Menurutnya, ini adalah transformasi Indonesia dalam menciptakan nilai tambah dan memperkuat daya saing industri nasional.

Proyek BNSI telah berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) dan berstatus Kawasan Berikat. GEM bersama mitra juga berencana mengembangkan IGIP sebagai kawasan industri hijau yang mengintegrasikan manufaktur cerdas, ekonomi sirkular, dan pusat inovasi metalurgi.

Bagikan
Sumber: otomotif.kompas.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks