ACEH BARAT — Rakit darurat ini dirancang khusus untuk menjamin mobilitas warga dan siswa SD di Kampung Sikundo tanpa risiko tinggi. Plt Kepala BPBD Aceh Barat Teuku Ronal menjelaskan, rakit memanfaatkan dorongan arus sungai secara terukur sehingga aman digunakan.
"Rakit ini kita pasangkan pada katrol yang terikat pada tali kabel baja, agar masyarakat dapat melintasi sungai tanpa khawatir bahaya," kata Teuku Ronal di Aceh Barat, Sabtu.
Spesifikasi Rakit: Drum Plastik Dipadukan Pelat Besi dan Kayu Kokoh
Armada darurat berukuran sekitar empat meter persegi tersebut dibuat dari kombinasi drum plastik, pelat besi, dan lantai kayu yang kokoh. Mekanisme penyeberangannya mengandalkan aliran sungai yang mendorong rakit dari satu tepi ke tepi lain, dengan kabel baja sebagai pemandu. BPBD memastikan konstruksi ini cukup stabil untuk menampung warga dewasa maupun anak-anak.
Sebelum Ada Rakit, Warga Terpaksa Menyeberangi Sisa Jembatan Berbahaya
Kondisi sebelumnya sangat memprihatinkan. Jembatan gantung yang menjadi satu-satunya akses penghubung Kampung Sikundo dengan kecamatan hancur total sejak banjir bandang melanda tahun lalu. Warga dan puluhan siswa SD terpaksa menggunakan sisa-sisa kabel dan papan yang masih tersisa, tindakan yang oleh pihak BPBD disebut "bertaruh nyawa".
Teuku Ronal menegaskan rakit darurat ini merupakan solusi jangka pendek agar akses vital pendidikan dan ekonomi masyarakat Sikundo tidak terputus total. "Langkah ini diambil sebagai solusi jangka pendek," ujarnya.
Pemkab Aceh Barat Usul Rp26 Miliar untuk Akses Permanen
Untuk penanganan jangka panjang, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat telah mengusulkan anggaran sebesar Rp26 miliar kepada pemerintah pusat. Dana tersebut direncanakan untuk membangun kembali jembatan permanen atau jalan alternatif yang lebih tahan terhadap bencana. Hingga saat ini, rakit darurat menjadi tumpuan utama mobilitas warga dan anak sekolah di pedalaman KAT Sikundo.