ACEH — Laporan dari JD Power mengungkapkan bahwa proporsi konsumen yang memilih skema leasing untuk kendaraan baru di AS anjlok ke angka 23 persen selama semester pertama 2026. Meskipun lebih baik dibandingkan titik terendah 17 persen di tahun 2022, angka ini masih jauh dari rerata sebelum pandemi yang mencapai 30 persen. Para analis menilai pergeseran ini bukan semata karena minat konsumen yang berubah, melainkan akibat ulah pabrikan dan dealer.
Strategi Batasi Pasokan Bikin Deal Leasing Tak Lagi Manis
Pandemi Covid-19 telah mengajarkan pabrikan dan dealer bahwa mereka bisa menjual mobil dengan harga lebih tinggi dengan cara sengaja membatasi jumlah unit yang beredar di pasar. Strategi yang awalnya diterapkan untuk mengatasi krisis semikonduktor ini kini menjadi semacam "buku pedoman" baru industri. Deal-deal leasing yang dulu murah dan menggiurkan perlahan menghilang, digantikan oleh penawaran dengan bunga tinggi dan nilai residu yang kurang kompetitif.
Kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS semakin memperparah situasi. Cicilan bulanan untuk skema leasing kini hampir menyamai, atau bahkan melebihi, cicilan kredit konvensional. Alhasil, konsumen lebih memilih membeli mobil secara tunai atau kredit langsung, ketimbang terikat kontrak sewa yang kurang menguntungkan.
Efek Domino: Harga Mobil Bekas Ikut Terbakar
Konsekuensi lain dari menurunnya minat leasing adalah melonjaknya harga mobil bekas. Dalam skema leasing normal, kendaraan akan kembali ke dealer setelah masa kontrak berakhir, lalu dijual sebagai unit bekas. Dengan lebih sedikitnya mobil baru yang dileasing, jumlah unit bekas yang "kembali" ke pasar pun ikut menyusut. Kelangkaan pasokan ini secara otomatis mendorong harga mobil bekas naik, menciptakan tekanan inflasi tambahan di sektor otomotif AS.
Kondisi ini menciptakan lingkaran setan: harga mobil baru mahal karena pasokan dibatasi, harga mobil bekas ikut mahal karena sedikit yang kembali dari leasing, dan konsumen di semua lini jadi yang paling dirugikan. Pasar otomotif AS kini tengah menghadapi fase koreksi yang dipicu oleh keputusan internal para pemain utamanya.