Menyambut bulan Ramadan, banyak orang mulai mencari kegiatan untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa. Di Banda Aceh, tradisi ngabuburit tidak hanya sebatas berburu takjil, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menikmati kekayaan sejarah dan budaya kota. Sebagai ibu kota Provinsi Aceh, Banda Aceh memiliki karakter yang unik dengan berbagai situs bersejarah, ruang publik yang asri, dan destinasi yang erat kaitannya dengan perjalanan masyarakat Aceh. Menjelang magrib, ruang-ruang publik di kota ini menjadi semakin hidup, di mana warga memanfaatkan waktu untuk berkumpul bersama keluarga dan teman setelah aktivitas harian.
Beragam tempat ngabuburit di Banda Aceh menawarkan suasana yang berbeda-beda. Mulai dari kawasan masjid yang kental dengan nuansa religi, ruang terbuka hijau yang sejuk, taman bersejarah yang penuh cerita, hingga kawasan pantai dengan pemandangan senja yang memukau. Kegiatan ngabuburit tidak harus selalu dilakukan di pusat kuliner; menikmati suasana sore sambil berjalan santai, melihat pemandangan, berwisata sejarah, atau mencari takjil di sekitar destinasi juga menjadi pilihan yang menarik.
Rekomendasi Tempat Ngabuburit di Banda Aceh
Berikut adalah lima lokasi yang dapat menjadi pilihan untuk menikmati sore sebelum waktu berbuka, masing-masing dengan keunikan dan daya tariknya sendiri.
1. Masjid Raya Baiturrahman
Masjid Raya Baiturrahman berdiri sebagai salah satu ikon paling kuat di Banda Aceh. Lebih dari sekadar tempat ibadah, masjid ini merupakan simbol sejarah, agama, dan identitas masyarakat Aceh. Berdasarkan informasi pariwisata Aceh, masjid tersebut telah menjadi bagian penting dari sejarah kota sejak masa Kesultanan Aceh dan dikenal dengan karakter arsitektur bergaya Mughal. Menjelang waktu berbuka, kawasan masjid menghadirkan suasana yang khas dengan halaman luas dan lingkungan sekitar yang membuat lokasi ini menarik untuk dikunjungi sambil menunggu azan magrib.
Aktivitas seperti duduk santai, menikmati suasana, mengabadikan arsitektur, hingga mencari makanan untuk berbuka dapat dilakukan dengan tetap memperhatikan ketertiban kawasan. Nuansa religius menjadi daya tarik utama; waktu ngabuburit di sekitar masjid juga dapat diisi dengan aktivitas yang lebih tenang, seperti membaca Al-Qur'an, berzikir, atau mempersiapkan diri untuk salat magrib. Bagi wisatawan yang baru pertama kali datang ke Banda Aceh, kunjungan ke Masjid Raya Baiturrahman sekaligus menjadi kesempatan untuk mengenal salah satu landmark paling terkenal di kota tersebut.
2. Lapangan Blang Padang
Lapangan Blang Padang terletak di pusat Kota Banda Aceh dan dikenal sebagai ruang terbuka yang digunakan masyarakat untuk berbagai aktivitas. Hamparan area terbuka menjadikannya cocok untuk berjalan santai, berolahraga ringan, duduk bersama keluarga, atau sekadar menikmati udara sore. Dinas pariwisata Aceh menyebut Blang Padang sebagai salah satu ruang publik yang populer, dengan lintasan jogging, sejumlah fasilitas olahraga, area kuliner, serta berbagai wahana permainan. Tidak terdapat tiket masuk untuk menikmati kawasan tersebut, meskipun pengunjung yang membawa kendaraan perlu memperhitungkan biaya parkir.
Saat Ramadan, suasana menjelang berbuka di Blang Padang terasa semakin ramai karena aktivitas warga dan pedagang makanan. Berbagai jajanan dan minuman yang tersedia di sekitar kawasan bisa menjadi pilihan untuk melengkapi menu berbuka. Salah satu daya tarik lain adalah keberadaan replika pesawat Seulawah RI 001, sebuah monumen yang memiliki nilai sejarah tersendiri karena berkaitan dengan perjuangan masyarakat Aceh pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Dengan kombinasi ruang terbuka, kuliner, olahraga, dan unsur sejarah, Blang Padang cocok bagi pengunjung yang ingin menghabiskan waktu sore tanpa harus masuk ke tempat wisata berbayar.
3. Pantai Ulee Lheue
Pantai Ulee Lheue menjadi pilihan menarik bagi pencinta suasana laut. Kawasan ini berada di Gampong Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, dan dikenal sebagai salah satu tempat favorit warga untuk menikmati suasana sore hingga malam. Daya tarik utamanya adalah pemandangan laut yang terbuka. Menjelang matahari terbenam, langit biasanya menghadirkan perubahan warna yang menarik untuk dinikmati. Angin laut dan suasana tepian pantai juga menciptakan pengalaman berbeda dibandingkan ngabuburit di tengah kota.
Aktivitas yang dapat dilakukan relatif sederhana, seperti duduk menikmati pemandangan, berjalan di sekitar kawasan, berbincang bersama keluarga, atau mencari jajanan dan minuman yang tersedia di sepanjang area sekitar pantai. Beberapa pilihan kuliner kaki lima juga dapat menjadi alternatif untuk menyiapkan hidangan berbuka. Waktu kedatangan perlu diperhatikan, terutama saat akhir pekan atau periode Ramadan ketika kawasan dapat lebih ramai. Datang lebih awal juga memberikan kesempatan memperoleh lokasi yang nyaman sekaligus menikmati perubahan suasana dari sore menuju matahari terbenam. Informasi pariwisata setempat juga menyarankan kedatangan lebih awal atau selepas Asar untuk menghindari kepadatan.
4. Taman Putroe Phang
Taman Putroe Phang menawarkan pilihan ngabuburit dengan perpaduan ruang hijau dan wisata sejarah. Kawasan ini berkaitan erat dengan Gunongan, bangunan bersejarah yang memiliki hubungan dengan Sultan Iskandar Muda dan Putri Pahang. Menurut informasi pariwisata Aceh, Taman Putroe Phang pada awalnya merupakan bagian dari kompleks taman kerajaan. Gunongan dibangun sebagai bentuk perhatian Sultan Iskandar Muda kepada permaisurinya, Putri Pahang, yang disebut mengalami kerinduan terhadap kampung halaman. Karena nilai sejarah tersebut, kawasan ini tidak hanya menarik dari sisi lingkungan, tetapi juga memberikan gambaran mengenai kehidupan Kesultanan Aceh pada masa lalu.
Pepohonan dan ruang terbuka di sekitar taman membuat suasananya relatif cocok untuk bersantai. Bagi keluarga, lokasi ini dapat menjadi pilihan untuk menghabiskan waktu dengan aktivitas ringan sebelum berbuka. Pengunjung juga dapat menikmati bangunan Gunongan sekaligus mempelajari kisah sejarah yang melekat pada kawasan tersebut. Taman Putroe Phang juga memiliki nilai visual yang menarik untuk fotografi. Perpaduan bangunan bersejarah, taman, dan suasana sore dapat menghasilkan pengalaman ngabuburit yang berbeda dari lokasi kuliner atau pantai.
5. Museum Tsunami Aceh
Museum Tsunami Aceh merupakan destinasi yang menawarkan pengalaman berbeda. Jika sebagian lokasi ngabuburit lebih menonjolkan suasana santai dan pemandangan, museum ini memberikan kesempatan untuk mengenal sejarah bencana tsunami Aceh sekaligus mempelajari pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana. Museum yang berada di Jalan Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, tersebut dirancang sebagai pengingat simbolis gempa dan tsunami Samudra Hindia 2004. Selain ruang pameran, fasilitasnya mencakup taman, ruang audio visual, rooftop, mushala, kafe, ruang parkir, toilet, serta fasilitas pendukung lainnya.
Menghabiskan waktu sore di kawasan museum dapat menjadi pilihan bagi pengunjung yang ingin memasukkan unsur edukasi dalam agenda Ramadan. Koleksi dan desain ruang museum mengajak pengunjung memahami dampak tsunami serta perjalanan masyarakat Aceh setelah bencana tersebut. Museum Tsunami Aceh juga masih aktif mengadakan kegiatan edukasi kebencanaan. Pada 2026, misalnya, museum menyelenggarakan berbagai program yang berkaitan dengan peningkatan budaya siaga bencana dan pameran temporer. Hal tersebut menunjukkan bahwa museum bukan hanya tempat menyimpan memori sejarah, tetapi juga menjadi ruang edukasi yang terus berkembang.
Tips Menikmati Ngabuburit dengan Nyaman
Pemilihan lokasi sebaiknya disesuaikan dengan aktivitas yang ingin dilakukan. Masjid Raya Baiturrahman lebih sesuai bagi yang ingin merasakan suasana religi, sedangkan Blang Padang menawarkan ruang terbuka dan aktivitas masyarakat. Pantai Ulee Lheue cocok bagi pencinta panorama laut, sementara Taman Putroe Phang menghadirkan suasana hijau dengan sentuhan sejarah. Museum Tsunami Aceh dapat menjadi pilihan bagi yang menginginkan kegiatan edukatif.
Waktu kedatangan juga perlu diperhatikan. Pada Ramadan, sejumlah lokasi populer berpotensi lebih ramai menjelang magrib. Datang lebih awal dapat memberikan waktu yang cukup untuk mencari tempat parkir, menikmati suasana, membeli takjil, serta berpindah ke lokasi berbuka tanpa terburu-buru.
Kebersihan menjadi hal penting ketika menghabiskan waktu di ruang publik. Sampah makanan dan minuman sebaiknya dibuang pada tempat yang tersedia. Khusus kawasan masjid dan museum, pengunjung juga perlu menjaga ketenangan serta mengikuti aturan yang berlaku.
Untuk lokasi pantai, kondisi cuaca juga patut diperiksa sebelum berangkat. Sementara itu, bagi destinasi seperti museum dan taman, informasi jam operasional sebaiknya diperiksa terlebih dahulu karena jadwal dapat berubah, khususnya selama Ramadan atau hari libur.
Banda Aceh memiliki banyak cara untuk menikmati sore selama Ramadan. Lima lokasi tersebut memperlihatkan bahwa ngabuburit dapat dikemas dalam berbagai bentuk, mulai dari beribadah, menikmati ruang terbuka, menyaksikan matahari terbenam, mengenal sejarah, hingga mencari takjil bersama keluarga.
Dengan memilih lokasi sesuai kebutuhan dan tetap menjaga kebersihan serta ketertiban, kegiatan menjelang berbuka dapat menjadi momen yang menyenangkan sekaligus bermakna. Dari suasana religius Masjid Raya Baiturrahman hingga panorama Pantai Ulee Lheue, setiap tempat ngabuburit di Banda Aceh menawarkan pengalaman yang berbeda untuk mengisi waktu Ramadan.