BANDA ACEH — Kepala Dinas Pendidikan Aceh Murthalamuddin, S.Pd., MSP, menyoroti pergeseran budaya merantau di kalangan anak muda Aceh. Ia menilai merantau yang dahulu menjadi bagian biasa dari perjalanan menuju kedewasaan kini justru dipandang sebagai hal istimewa. Pandangan itu disampaikannya saat membahas hubungan antara pendidikan, pola asuh keluarga, dan pembentukan karakter anak.
Menurut Murthalamuddin, pada masa lalu anak muda Aceh yang sudah berusia sekitar 18 tahun tidak lagi takut meninggalkan kampung halaman. Mereka pergi untuk mencari pengalaman, pekerjaan, maupun kehidupan yang lebih baik tanpa membutuhkan dukungan berlebihan dari orang tua.
Merantau Dulu Cukup dengan Izin Orang Tua
Murthalamuddin mengenang, keputusan merantau pada masa lalu tidak menuntut restu berlebihan. Anak cukup meminta izin, lalu berangkat menentukan jalan hidupnya sendiri.
"Umumnya masyarakat Aceh dulunya akan memilih merantau setelah dewasa. Dan itu tidak membutuhkan suatu dukungan yang luar biasa dari orang tua. Cukup dengan izin dan pergi," ujarnya.
Budaya itu, lanjutnya, membentuk mental anak muda Aceh menjadi lebih mandiri. Mereka terbiasa hidup dalam keterbatasan, bekerja keras, dan menghadapi persoalan tanpa selalu bergantung kepada keluarga.
Kisah Perantau Pidie yang Memulai dari Bawah
Murthalamuddin menggambarkan bagaimana anak muda Aceh dahulu, termasuk dari Pidie, memulai kehidupan dari titik paling bawah. Mereka rela bekerja bertahun-tahun di usaha milik orang lain hanya untuk mendapatkan makan dan pengalaman.
"Dulu orang-orang Pidie yang merantau ke daerah kita, kita lihat mereka bersedia hanya untuk dapat makan dan duduk bertahun-tahun di tokonya itu yang juga orang Pidie. Hanya dapat dikasih makan," katanya.
Setelah bertahun-tahun bekerja, kemampuan dan pengalaman mereka perlahan tumbuh. Dari situ mereka berani membuka usaha sendiri hingga akhirnya hidup mandiri.
Orang Tua Kini Disebut Terlalu Melindungi Anak
Pola itu dinilai Murthalamuddin mulai berubah. Merantau yang sebelumnya hal biasa justru sering dianggap pencapaian luar biasa. Ia menyebut sebagian orang tua masih terus memberikan perlindungan meski anak sudah berada di luar daerah untuk sekolah maupun bekerja.
"Bahkan setelah mendapat kerja, kita sering melihat orang tua yang masih menjaga anaknya yang pergi merantau, bahkan menjaga cucunya dan lain sebagainya," ujarnya.
Ia tidak menolak perhatian orang tua terhadap anak. Namun perlindungan yang berlebihan dinilai berpotensi mengurangi kesempatan anak belajar menghadapi persoalan dan mengambil keputusan secara mandiri.
Pendidikan Diminta Bangun Keberanian, Bukan Hanya Nilai Akademik
Murthalamuddin mempertanyakan apakah sistem pendidikan saat ini cukup berhasil membangun kemandirian dan keberanian anak menghadapi kehidupan di luar lingkungan keluarga. Menurutnya, pendidikan tidak hanya bertugas memberikan pengetahuan akademik.
"Ternyata pendidikan kita tidak berhasil membangun kemandirian. Pendidikan kita gagal menciptakan manusia yang berani menghadapi dunia, manusia yang siap melawan segala tantangan dan surprise," tegasnya.
Ia menilai persoalan itu tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Pola asuh keluarga memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak sejak usia dini.
"Cara didik, pola asuh itu menentukan masa depan anak-anak kita," ujarnya.
Anak SD Dulu Terbiasa Berangkat Sendiri
Murthalamuddin membandingkan kehidupan anak-anak Aceh pada masa lalu dengan kondisi sekarang. Dahulu, anak sekolah dasar sudah terbiasa bepergian sendiri, bahkan menempuh jarak beberapa kilometer untuk menuju sekolah.
Ia berharap pendidikan di Aceh ke depan tidak hanya menghasilkan anak yang unggul secara akademik. Generasi muda Aceh juga diharapkan memiliki keberanian keluar dari zona nyaman, menghadapi dunia, dan membangun masa depannya sendiri.
"Perubahan paradigma ini membuat orang Aceh kehilangan daya survival, daya sukses di luar dan cenderung memilih tinggal di kampung," katanya.