BANDA ACEH — Staf Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BPBA, Haslinda Juwita, menyebut bencana yang mendominasi umumnya dipicu faktor cuaca ekstrem. Banjir, tanah longsor, angin puting beliung, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi jenis kejadian yang paling sering muncul dalam rekapitulasi kebencanaan kuartal ketiga 2026.
Kebakaran dan Karhutla Paling Banyak Terjadi
Dari 117 kejadian, kebakaran menyumbang angka terbesar dengan 48 peristiwa. Karhutla menyusul dengan 23 kejadian.
Bencana hidrometeorologi juga tercatat signifikan: banjir 20 kejadian, angin puting beliung 15 kejadian, dan banjir bandang lima kejadian. Sisanya meliputi tanah longsor tiga kejadian, abrasi dua kejadian, serta gempa bumi satu kejadian.
3.355 Keluarga Terdampak, 992 Jiwa Mengungsi
Rangkaian bencana berdampak langsung terhadap 3.355 kepala keluarga atau setara 6.901 jiwa. Tiga orang dilaporkan meninggal dunia dan 18 lainnya mengalami luka-luka.
Sebanyak 992 jiwa terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Sektor permukiman menjadi salah satu yang paling parah terdampak.
BPBA mencatat 409 unit rumah rusak berat, 128 unit rusak sedang, dan 192 unit rusak ringan. Sebanyak 757 unit rumah lainnya sempat terendam banjir.
Fasilitas Umum hingga Jembatan Ikut Rusak
Kerusakan menjangkau fasilitas pendidikan dan tempat ibadah. Masing-masing tiga unit fasilitas pendidikan dan tiga tempat ibadah dilaporkan rusak.
Pada sektor infrastruktur, bencana merusak jalan sepanjang 512,9 meter dan enam unit jembatan. Sebanyak 53 bangunan yang terdiri dari ruko dan gudang juga terdampak.
Cuaca Ekstrem Jadi Pemicu Utama
Haslinda menegaskan bahwa data rekapitulasi ini dihimpun hingga kuartal ketiga 2026. "Berdasarkan data rekapitulasi kebencanaan Aceh yang dihimpun hingga kuartal ketiga 2026, bencana yang mendominasi umumnya dipicu oleh faktor cuaca ekstrem seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla)," kata Haslinda, Kamis (8/10/2026).
BPBA terus melakukan pemantauan dan pendataan terhadap kejadian bencana di berbagai wilayah Aceh. Prioritas diberikan pada wilayah yang rawan terdampak cuaca ekstrem.