KUTACANE — Pemerintah Aceh bersama sejumlah kabupaten dan kota tengah memperbarui data luas lahan pertanian yang butuh penanganan pascabencana November 2025. Pembaruan ini menyasar sawah rusak berat yang belum tersentuh pemulihan. Azanuddin menyatakan data final akan diusulkan ke Kementerian Pertanian lewat surat gubernur begitu rampung.
Dari sisi serapan anggaran, pemulihan sawah tahap pertama baru mencapai 56,7 persen per 9 Oktober 2026. Pekerjaan konstruksi optimalisasi lahan sudah berjalan 68 persen atau sekitar 15.040 hektare, tetapi pengolahan lahannya baru 40 persen atau 7.035 hektare.
Rusak Ringan dan Sedang: Baru Sebagian Kembali Ditanami
Pada kategori rusak ringan, dari 23.818 hektare yang ditangani tahap pertama, baru 2.829,19 hektare atau 11,87 persen yang sudah ditanami. Lahan yang telah dipanen sekitar 1.100 hektare atau 4,6 persen.
Untuk rusak sedang, dari total 4.393 hektare, lahan yang telah ditanami mencapai 1.340 hektare atau 30,50 persen. Luas lahan yang sudah dipanen baru sekitar 428 hektare atau 9,74 persen. Konstruksi rehabilitasi sawah kategori ini sebenarnya sudah rampung 100 persen, namun pengolahan lahannya baru 79,14 persen atau sekitar 3.477 hektare.
Azanuddin menilai angka penanaman dan panen masih bisa bertambah karena sejumlah daerah belum melaporkan perkembangan di lapangan ke provinsi.
"Angka ini sebenarnya bisa jauh lebih besar jika beberapa kabupaten yang sudah tanam dan panen sudah memberikan laporan kepada provinsi," ujarnya.
Program Tahap Pertama Menyasar 28.211 Hektare
Data Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh mencatat program pemulihan tahap pertama mencakup 28.211 hektare sawah. Rinciannya, 23.818 hektare lewat optimalisasi lahan dan 4.393 hektare melalui rehabilitasi.
Tahap kedua direncanakan menjangkau 12.641 hektare, terdiri atas 3.253 hektare optimalisasi lahan dan 9.388 hektare rehabilitasi. Pekerjaan konstruksinya dijadwalkan mulai pertengahan Oktober 2026.
Perkebunan Ikut Terdampak, Bantuan Diproses untuk 40.418 Hektare
Bencana November 2025 juga berdampak pada sekitar 60.438 hektare lahan perkebunan di Aceh. Komoditas yang terdampak meliputi kelapa sawit, kopi, kakao, pinang, karet, kelapa, serai wangi, dan tembakau.
Dari jumlah itu, bantuan pemulihan dari Kementerian Pertanian yang sedang berproses mencakup sekitar 40.418 hektare. Luasannya terdiri atas 30.039 hektare kopi arabika, 9.054 hektare kakao, 830 hektare kelapa, dan 495 hektare karet. Program bantuan perkebunan ditargetkan selesai pada akhir 2026.
Azanuddin berharap fasilitasi dari Kementerian Pertanian pada 2027 bisa mempercepat pemulihan lahan rusak berat agar petani kembali berproduksi.
"Kita sangat berharap, insyaallah pada 2027 Kementan bisa memfasilitasi lahan rusak berat ini," katanya.
Sementara itu, pemulihan sawah rusak ringan dan sedang ditargetkan rampung tahun ini sesuai arahan Gubernur Aceh. Pemulihan sawah rusak berat sendiri masih bergantung pada penyelesaian pendataan dan pengusulan ke pemerintah pusat.