Pencarian

Film Wilsen Willim soal Tenun Diputar di Belgia, 80-90 Tiket Ludes

Sabtu, 17 Oktober 2026 • 19:34:31 WIB
Film Wilsen Willim soal Tenun Diputar di Belgia, 80-90 Tiket Ludes
Film dokumenter "Reinventing Tenun: The Journey to Algorithm" karya Wilsen Willim diputar di Cinema Lumière Antwerpen, Belgia, dalam rangkaian Indonesia Creative Week 2026.

ACEH — Film dokumenter garapan desainer Wilsen Willim berjudul "Reinventing Tenun: The Journey to Algorithm" diputar di Cinema Lumière Antwerpen, Belgia, pada 4 Oktober lalu dalam rangkaian Indonesia Creative Week 2026. Sebanyak 80-90 penonton membeli tiket seharga 12 euro atau sekitar Rp 240.000 untuk menyaksikan dua pemutaran film tersebut. Antusiasme warga lokal itu bahkan membuat Ismi Rohimaningsih, istri Duta Besar Indonesia untuk Belgia Andy Rachmianto, ikut terkejut.

Ismi Rohimaningsih menyampaikan kabar tersebut langsung di studio Wilsen di kawasan Joglo, Jakarta Barat. Ia datang membawa cerita soal penonton Belgia yang bertahan sampai film berdurasi hampir satu jam itu selesai.

"Ada sekitar 80-90 orang yang beli. Film Wilsen tayang terakhir dan saya tidak menyangka mereka stay sampai filmnya habis," ungkap Ismi.

Film yang disutradarai Jibril Erlangga itu tayang di Belgia setelah lebih dulu dirilis di kanal YouTube Wilsen. Pemutaran di Antwerpen menjadi bagian dari rangkaian Indonesia Creative Week 2026 yang tahun ini ditutup dengan peragaan karya Itang Yunasz.

Perjalanan Wilsen ke Empat Daerah Perajin Wastra

Dokumenter ini merekam perjalanan Wilsen mendatangi empat daerah untuk berkolaborasi dengan perajin wastra. Kolaborasi itu disiapkan untuk koleksi peragaan busana sepuluh tahunnya berkarya, "Algorithm: Universal Language".

Presentasi koleksi berlangsung megah di Hotel Mulia pada Juli lalu. Wilsen menampilkan busana dari tenun songket Jembrana Bali, tenun sutra Garut, tenun Dayak Iban Kapuas, hingga songket Minang.

Di tangan Wilsen, para perajin mengembangkan teknik tenun dengan benang daur ulang. Pendekatan itu jadi salah satu daya tarik film, terutama bagi penonton yang belum mengenal wastra Nusantara.

Alasan Ismi Rohimaningsih Melirik Wilsen

Ismi mengaku kagum pada dedikasi Wilsen melestarikan wastra Nusantara. Ia menyoroti usia desainer tersebut yang masih muda, juga latar belakangnya sebagai ras minoritas.

Kekaguman itu berlanjut ke rencana kerja sama. Ismi ingin Wilsen terlibat dalam Indonesia Creative Week tahun depan, dan tawaran tersebut langsung disambut tangan terbuka meski Wilsen tidak bisa menghadiri pemutaran di Belgia.

"Next year, I want him," ucap Ismi.

Belgia Jadi Pasar Potensial bagi Tenun Lokal

Bagi Wilsen, ajakan itu sejalan dengan semangatnya memperkenalkan kain tradisional ke kancah internasional. Ia berharap karya perajin dilirik pasar global, termasuk desainer mancanegara.

Belgia dinilai punya bobot tersendiri. Negara itu dikenal sebagai rumah bagi perancang berkaliber seperti Dries van Noten, Ann Demeulemeester, dan Martin Margiela, yang bersama sejumlah desainer Belgia lain dijuluki Antwerp Six.

Wilsen menegaskan perluasan pasar tenun lokal bukan sekadar soal eksposur. Menurut dia, kesejahteraan perajin jadi taruhan utama.

"Tenun lokal perlu diperluas marketnya supaya perajin kita bisa lebih sejahtera. Di Indonesia saja tidak cukup, apalagi sistem di sini cenderung lebih mengeksploitasi mereka. Kalau dibiarkan, tradisi wastra kita akan mati," ungkap Wilsen.

Pemutaran di Antwerpen menambah daftar langkah Wilsen membawa wastra ke ruang mode internasional. Setelah Belgia, Indonesia Creative Week 2026 menyisakan pekerjaan rumah: memastikan tawaran untuk tahun depan benar-benar berjalan.

Follow redaksiaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: wolipop.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks