BANDA ACEH — PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Regional Aceh menggelar Media Gathering bersama insan pers di Auditorium Landmark BSI Regional Aceh, Rabu (13/5/2026). Acara bertema “Peran Strategis Perbankan Syariah dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Aceh” ini menjadi ajang diskusi antara BSI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dan media massa.
Secara nasional, BSI mencatatkan pertumbuhan jumlah nasabah signifikan pada Kuartal I 2026. Sejak merger pada 1 Februari 2021, total nasabah bertambah 9,26 juta orang. Khusus pada tiga bulan pertama tahun ini, jumlah nasabah meningkat sekitar 0,5 juta menjadi 23,7 juta nasabah.
“Peningkatan customer base ini turut mendorong DPK BSI pada Triwulan I 2026 tumbuh 18 persen secara year on year menjadi Rp376,8 triliun,” ujar RCEO BSI Aceh, Imsak Ramadhan, dalam sambutannya.
Dari sisi pembiayaan, BSI Aceh mencatat pertumbuhan 11,15 persen (YoY) menjadi Rp25,4 triliun. Kualitas pembiayaan tetap sehat dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) gross nasional sebesar 1,8 persen, membaik dari periode sebelumnya 1,88 persen. NPF nett berada di level 0,38 persen.
Total aset BSI Regional Aceh per Maret 2026 naik menjadi Rp26,4 triliun, meningkat Rp2,7 triliun atau 11,36 persen secara tahunan. Capaian ini mengantarkan BSI masuk jajaran Top 5 Bank di Indonesia setelah resmi menjadi bank persero pada 23 Januari 2026.
“Hal ini menunjukkan bahwa bank syariah saat ini memiliki posisi dan kinerja yang sejajar dengan bank-bank besar Himbara lainnya,” jelas Imsak.
Asisten Direktur OJK Aceh, Firman Octo Armando, menegaskan perbankan syariah berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh. Menurutnya, penguatan sektor jasa keuangan syariah akan menjadi fondasi penting dalam mendorong pembangunan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
Ketua PWI Aceh, M. Nasir Nurdin, mengapresiasi pelaksanaan Media Gathering ini. “Kolaborasi ini penting untuk terus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai perkembangan ekonomi dan keuangan syariah,” ucapnya.
Kegiatan menghadirkan dua pemateri. Wakil Direktur Eksekutif KDEKS Aceh, Prof. Dr Hafas Furqani, menjelaskan peran KDEKS dalam mempercepat pengembangan ekonomi syariah melalui penguatan ekosistem halal, pengembangan industri keuangan syariah, serta peningkatan literasi ekonomi syariah.
Sementara Manager Madya OJK Aceh, Ferdinan Daular, memaparkan kontribusi industri perbankan syariah terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh, termasuk pembiayaan sektor produktif, penguatan UMKM, serta peningkatan inklusi dan literasi keuangan syariah di daerah.
Melalui kegiatan ini, BSI Aceh berharap sinergi antara industri perbankan syariah, regulator, akademisi, dan media terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi Aceh yang lebih maju, inklusif, dan berkelanjutan berbasis nilai-nilai syariah.