BANDA ACEH — Pemerintah Aceh membuka pintu selebar-lebarnya bagi investor yang ingin masuk ke KEK Arun Lhokseumawe. Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, menyebut sejauh ini sudah ada beberapa perusahaan yang menyatakan minat serius, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
“Semoga membawa kebaikan dan kemakmuran bagi Aceh,” kata Nurlis di Banda Aceh, Selasa.
Investor yang Sudah Menyatakan Minat
Nurlis merinci sejumlah perusahaan yang telah melirik proyek hilirisasi di KEK Arun. Salah satunya adalah PT Indoasia Oil Tank Terminal, yang salah satu pemegang sahamnya, Mohamad Bawazeer, merupakan bos Indrillco Group sekaligus Ketua Komite Bilateral Arab Saudi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.
Selain itu, PT Pupuk Indonesia (Persero) juga telah menyatakan keinginan membangun dua pabrik metanol di Aceh dan Kalimantan Timur untuk memenuhi kebutuhan biodiesel nasional.
Dari luar negeri, sebuah perusahaan berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab, yang bergerak di bidang perdagangan energi dan pengembangan proyek migas, telah mengirimkan surat ke Gubernur Aceh pada 26 April 2026. Perusahaan tersebut berminat membangun pabrik metanol di kawasan tersebut.
Tak ketinggalan, perusahaan asal Jiangsu, China, juga menyampaikan surat pada 8 Juli 2026. Menggandeng perusahaan nasional di Jakarta, mereka berniat mengembangkan proyek likuefaksi LNG Aceh di KEK Arun.
Blok Andaman: Kunci Hilirisasi Aceh
Nurlis menuturkan, daya tarik utama para investor adalah cadangan migas Blok Andaman. Kawasan ini memiliki enam blok migas utama, yaitu Andaman I, Andaman II, Andaman III, Central Andaman, South Andaman, dan South West Andaman.
Tahap awal pengembangan akan dimulai dari Lapangan Gas Tangkulo di Wilayah Kerja South Andaman yang dikelola Mubadala Energy. “Proyek inilah yang akan menjadi pintu masuk dimulainya hilirisasi migas di Aceh,” ujar Nurlis.
Lapangan Tangkulo diproyeksikan memproduksi sekitar 300 MMSCFD gas. Dari jumlah itu, baru sekitar 160 MMSCFD yang telah memiliki komitmen penjualan melalui Gas Sale Agreement (GSA) kepada PLN.
“Sisanya dinilai membuka peluang besar bagi tumbuhnya berbagai industri hilir. Potensinya masih sangat besar untuk mendukung pertumbuhan industri di Aceh,” jelas Nurlis.
Selaras dengan Proyek Strategis Nasional
Pemerintah Aceh menargetkan hilirisasi tersebut berpusat di KEK Arun. Langkah ini selaras dengan Proyek Strategis Nasional dalam RPJMN 2025–2029 yang menempatkan pengembangan KEK Arun sebagai salah satu program prioritas. Kebijakan ini juga sejalan dengan arah pembangunan dalam RPJMA Aceh 2025–2029.
Dengan masuknya para investor ini, Pemerintah Aceh optimistis KEK Arun bisa menjadi pusat industri hilir migas yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat.