BANDA ACEH — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh merilis data terbaru pertumbuhan ekonomi daerah. Pada triwulan I 2026, perekonomian Aceh tercatat tumbuh 4,09 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y). Angka ini menunjukkan perlambatan jika dibandingkan dengan capaian triwulan I 2025 yang sebesar 4,59 persen.
Meski tumbuh secara tahunan, kondisi ekonomi Aceh justru mengalami kontraksi jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Perekonomian Aceh terkontraksi 0,61 persen secara kuartalan (quarter-to-quarter/q-to-q).
Berdasarkan publikasi BPS, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh atas dasar harga berlaku pada triwulan I 2026 mencapai Rp66,39 triliun. Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp39,95 triliun.
BPS mencatat pertumbuhan ekonomi didorong oleh peningkatan aktivitas produksi dan konsumsi masyarakat. Lonjakan produksi peternakan dan industri pengolahan terjadi menjelang Idulfitri. Peningkatan perdagangan serta mobilitas masyarakat selama libur panjang turut berkontribusi signifikan.
Selain itu, belanja pemerintah dan kegiatan rehabilitasi pascabencana juga ikut menggerakkan aktivitas ekonomi di Aceh pada periode tersebut.
Dari sisi lapangan usaha, sektor perdagangan menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar. Kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh mencapai 1,27 persen. Sektor administrasi pemerintahan menyusul dengan kontribusi 0,65 persen, disusul sektor pertanian yang memberikan tambahan 0,10 persen.
Pada tingkat regional, pertumbuhan ekonomi Aceh sebesar 4,09 persen memberikan kontribusi 4,88 persen terhadap perekonomian Pulau Sumatera. Sebagai perbandingan, pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera pada periode yang sama tercatat di Kepulauan Riau dengan capaian 7,04 persen.