BANDA ACEH — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa konsekuensi logistik yang tidak sederhana bagi Aceh. Dengan anggaran harian Rp17,1 miliar dari pemerintah pusat, program ini melayani lebih dari 1,7 juta penerima manfaat. Lonjakan permintaan daging ayam sebagai sumber protein utama kini menguji rantai pasok lokal yang selama ini bergantung pada pemasok dari Sumatera Utara.
Kebutuhan Ayam di Banda Aceh Capai 2.000 Ekor Per Hari
Di Banda Aceh, MBG menjangkau sekitar 45.000 siswa. Dengan standar porsi 35-40 gram daging ayam matang per siswa, kebutuhan harian mencapai 2.000 ekor ayam. Satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melayani 3.000 penerima manfaat membutuhkan sekitar 350 ekor ayam per hari jika menu ayam disajikan.
Aceh saat ini memiliki 553 SPPG yang tersebar di 23 kabupaten/kota. Jumlah ini terus bertambah seiring perluasan program. Jika setiap SPPG menyajikan menu ayam dua kali seminggu, total kebutuhan ayam di Aceh akan melonjak drastis.
Ketergantungan Lebih dari 90 Persen pada Sumut
Masalah klasik yang dihadapi adalah ketergantungan pasokan. Lebih dari 90 persen telur, ayam potong, pakan, dan bibit (DOC) di Aceh masih dipasok dari Sumatera Utara. Harga pakan ayam yang mencapai Rp550.000 hingga Rp650.000 per sak 50 kilogram langsung terpengaruh oleh fluktuasi harga di provinsi tetangga.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf secara tegas menyatakan ketidakinginan Aceh terus bergantung pada daerah lain untuk kebutuhan pangan pokok. Pernyataan ini menjadi pemicu langkah konkret dari institusi pendidikan tinggi di Aceh.
FKH USK Ambil Peran: 20.000 Ekor Ayam Tahap Pertama
Menjawab tantangan itu, FKH USK mengambil langkah sistematis. Untuk tahap pertama, mereka menyiapkan lahan dengan kapasitas 20.000 ternak ayam. Jumlah ini akan dilipatgandakan secara bertahap sesuai kebutuhan pasar.
Rektor USK Prof. Mirza Tabrani, Ph.D, bertekad untuk berinvestasi dalam rantai pasok guna memenuhi kebutuhan konsumsi Aceh, khususnya untuk program MBG. "Kami tidak sekadar beternak, tetapi membangun sistem produksi yang terukur. Setiap siklus panen dievaluasi, kapasitas kandang ditingkatkan berdasarkan data permintaan aktual," ujar Pakar Ekonomi USK, Dr. Rustam Effendi.
Ia menilai bisnis peternakan ayam sangat prospektif jika dikelola secara profesional. Keuntungan bersih untuk populasi 20.000-24.000 ekor bisa mencapai Rp300 juta hingga Rp400 juta per panen.
Teaching Farm Jadi Laboratorium Praktik Mahasiswa
FKH USK bukan pemain baru di sektor ini. Sejak 2023, USK telah mengoperasikan Teaching Farm Broiler dengan populasi sekitar 18.000 ekor per tiga bulan. Fasilitas ini berfungsi sebagai unit bisnis sekaligus laboratorium praktik bagi mahasiswa.
Tiga tipe kandang—close house, kandang panggung, dan kandang postal—tersedia di sana. Per semester, sekitar 20 hingga 25 mahasiswa per minggu melakukan praktik langsung di teaching farm. Mereka belajar mengelola peternakan modern yang efisien dan menguntungkan.
Mewujudkan Kemandirian Pangan, Uang Rp17,1 Miliar Berputar di Aceh
Program MBG di Aceh tidak boleh menjadi beban yang hanya menguras anggaran. Anggaran harian Rp17,1 miliar harus berputar di dalam Aceh. Artinya, bahan pangan termasuk daging ayam harus dipasok oleh peternak lokal.
Langkah FKH USK menjadi model bagaimana institusi pendidikan tinggi bisa mengambil peran strategis dalam kemandirian pangan daerah. Mereka menggabungkan riset, pendidikan, dan produksi dalam satu kesatuan. Hasilnya bukan hanya daging ayam untuk MBG, tetapi juga lulusan yang siap mengelola peternakan secara profesional.