Baliho-Baliho Kosong di Simpang Strategis Banda Aceh, Ruang Iklan Disewakan Tapi Seniman Lokal Tak Terjangkau

Penulis: Ricki Manurung  •  Selasa, 19 Mei 2026 | 12:27:01 WIB
Baliho-baliho di Simpang Lima Banda Aceh tampak kosong menanti penyewa iklan.

BANDA ACEH — Simpang Lima. Simpang BPKP. Dua persimpangan yang menghubungkan titik-titik strategis di Kota Banda Aceh ini menjadi lokasi berdirinya baliho-baliho besar. Namun, alih-alih menampilkan produk atau layanan, papan-papan itu kosong dengan keterangan resmi: ruang iklan ini disewakan.

Setiap kali lampu merah menyala, ribuan mata pengendara dan pejalan kaki otomatis tertuju ke atas. Mereka menemukan kekosongan. Bukan karena baliho rusak atau terlupakan — melainkan karena belum ada yang membayar untuk mengisinya.

Seniman Punya Karya, Tapi Tak Punya Skala

Wadi, seniman mural asal Banda Aceh, sudah memilih medium yang paling publik untuk karyanya: dinding. Karyanya berada di luar galeri dan di luar feed media sosial — dindingnya bercerita di tempat orang lewat, bukan di tempat orang datang.

Tapi dinding yang tersedia untuknya jauh dari simpang-simpang yang dilalui ribuan orang setiap hari. Paradoksnya terletak di situ: ia sudah keluar dari layar, namun akses ke titik yang benar-benar terlihat masih tertutup.

Puisi dan ilustrasi karya seniman muda Aceh selama ini hidup di caption dan feed media sosial. Keduanya hanya dilihat oleh orang yang sudah memilih untuk melihat — sudah disaring algoritma sebelum sampai ke mata orang lain. Baliho di simpang bekerja tanpa algoritma. Ia dilihat semua orang, tanpa pilihan, tanpa filter.

Siapa yang Berhak Mengisi Ruang Publik?

Ada pertanyaan yang jarang diajukan tentang simpang-simpang itu: siapa yang selama ini memutuskan apa yang layak berdiri di sana? Nilai apa yang bekerja di balik keputusan itu?

Selama ini jawabannya tunggal dan jarang dipertanyakan. Yang layak mengisi ruang itu adalah yang mampu membayarnya — bukan karya yang paling relevan untuk kota ini, bukan ekspresi yang paling mencerminkan siapa yang tinggal di sini.

Ini adalah sistem yang bekerja dengan logikanya sendiri. Logika itu sudah begitu lama berlaku sampai terasa seperti hukum alam. Padahal ini kesepakatan — yang pernah dibuat manusia, dan bisa dipertanyakan manusia juga.

Logika Iklan vs Logika Komunitas

Satu cara resmi untuk mengisi ruang itu adalah uang komersial. Logika yang mengatur simpang-simpang Banda Aceh adalah logika iklan — bukan logika komunitas, bukan logika budaya.

Pertanyaan yang lebih menarik: kenapa ruang itu tidak dianggap tersedia untuk yang lain? Seniman, pendidik, komunitas yang punya sesuatu untuk ditunjukkan tapi anggaran penyewaannya jauh dari jangkauan.

Karya seni butuh mata. Bukan hanya mata yang datang ke galeri, atau mata yang memilih akun tertentu untuk diikuti. Tapi mata yang sedang dalam perjalanan, yang terpaksa berhenti karena lampu merah. Di situlah sesuatu bisa terjadi — jika ruangnya tersedia.

Setiap kali lampu merah menyala di Simpang Lima dan Simpang BPKP, ribuan mata melihat ke atas. Dan menemukan ruang yang sedang menunggu tawaran yang lebih baik dari sekadar uang.

Reporter: Ricki Manurung
Sumber: komparatif.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top